Saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (28/8), pengurus MWCNU Ngoro, H Ahmad Rifai Kahfi, menjelaskan tanda seseorang dikehendaki baik.
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Ada tiga tanda seseorang dikehendaki baik oleh Allah Ta’ala,’’ tuturnya.
Pertama paham agama. Rasulullah bersabda: Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.
Mau terus belajar ilmu agama. Sehingga memahami halal dan haram, mengetahui kewajiban dan larangan, serta mampu membedakan antara jalan kebenaran dan kebatilan.
Paham agama bukan sekadar mengetahui banyak dalil. Ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang membuat seseorang semakin takut kepada Allah, semakin rendah hati, semakin rajin beribadah, dan semakin baik akhlaknya.
Allah berfirman: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (QS Fathir 28).
Karena itu, jangan pernah merasa rugi ketika menghabiskan waktu untuk belajar agama. Bisa jadi duduk di majelis ilmu, membaca kitab, mengaji kepada guru, atau mempelajari satu hukum agama merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kita.
Kedua zuhud terhadap dunia. Tidak rakus dengan dunia. Zuhud adalah ketika dunia berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati.
Seseorang boleh kaya, tetapi hatinya tidak sombong. Boleh memiliki jabatan, tetapi tidak merasa lebih mulia daripada orang lain. Boleh memiliki banyak harta, tetapi tetap mudah bersedekah dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup.
Rasulullah bersabda: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.
Seorang musafir tidak akan membawa seluruh isi tempat yang dilewatinya. Ia mengambil bekal secukupnya untuk sampai kepada tujuan. Demikian pula seorang mukmin. Dunia ini bukan tempat tinggal selamanya, melainkan tempat menyiapkan bekal menuju akhirat.
Orang yang dikehendaki baik oleh Allah tidak mudah tertipu oleh dunia. Ketika mendapatkan harta, ia bersyukur. Ketika kehilangan harta, ia tidak kehilangan Allah.
Ali bin Husain Zainal Abidin, keturunan Rasulullah dikenal sebagai sosok yang sangat tekun beribadah dan gemar bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
Pada malam hari, beliau sering membawa makanan dan kebutuhan untuk diberikan kepada orang-orang miskin tanpa ingin diketahui. Setelah beliau wafat, orang-orang baru mengetahui bahwa selama ini ada seseorang yang diam-diam memenuhi kebutuhan mereka.
Kisah ini mengajarkan bahwa zuhud bukan berarti tidak memiliki harta. Justru harta yang berada di tangan orang yang zuhud akan menjadi sarana kebaikan.
Ketiga, sibuk memperbaiki aib sendiri. Allah Ta’ala mengingatkan: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing satu sama lain (QS Al-Hujurat 12).
Baca Juga: Dukung Peningkatan Kualitas Pendidikah, Khofifah Kucurkan Beasiswa untuk 1.310 Siswa di Jombang
Nabi bersabda; Berbahagialah orang yang kesalahannya membuatnya sibuk sehingga tidak sempat memperhatikan kesalahan orang lain.
Umar bin Khattab dikenal sangat tegas dalam menegakkan kebenaran. Namun, ketegasan itu tidak membuat beliau merasa dirinya sempurna.
Beliau justru sering melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri. Salah satu ungkapannya; Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.
Pesan ini mengajarkan bahwa orang yang cerdas bukanlah orang yang selalu mencari kesalahan orang lain, melainkan orang yang berani memeriksa dirinya sendiri.
Jika hari ini kita melihat orang lain kurang baik, jangan buru-buru merasa lebih baik. Barangkali Allah sedang menunjukkan kekurangan orang lain agar kita belajar, bukan agar kita mencela. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto