Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (24/8), pengasuh PP Tahfidzul Quran Roudhotul As’adiyah, Semanding, Sumbermulyo, Jogoroto, KH As'ad Nawawi Alhafiz, menjelaskan pentingnya gembira dengan Maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. ’’Orang kafir saja mendapatkan manfaat dari gembira atas kelahiran Nabi. Apalagi kita yang muslim,’’ tuturnya.
Abu Lahab termasuk orang yang dipastikan masuk neraka. Sebagaimana disebutkan di QS Al Lahab 1-5. Namun setiap Senin dia mendapatkan keringanan siksa gara-gara dia gembira yang diberitahu Nabi lahir.
Nabi Muhammad merupakan keponakan Abu Lahab. Ketika diberitahu punya ponakan yang baru lahir, Abu Lahab sebagai paman bersuka cita. Dia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian sepanjang jalan. Tidak hanya mengungkapkan kegembiraan, Abu Lahab bahkan memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah. Ini karena Tsuwaibah yang memberi kabar atas kelahiran Nabi Muhammad.
Setelah merdeka, Tsuwaibah lantas menyusui Nabi.
Singkat cerita, setelah Nabi menerima wahyu, Abu Lahab sangat memusuhi dan berulangkali mencoba membunuh. Sampai mati Abu Lahab masih kafir.
Setelah mati, Abu Lahab muncul di mimpi adiknya, Abbas. Dia menanyakan kepada Abu Lahab tentang keadaannya, maka Abu Lahab menjawab: ’’Setelah aku wafat, aku tidak melihat akan adanya suatu kebaikan yang menghampiriku kecuali aku diberi minum dan diringankan siksaku setiap malam Senin, sebab aku memerdekakan budakku Tsuwaibah.
’’Jika seorang kafir yang penentang Islam seperti Abu Lahab saja mendapat keringanan siksa karena rasa bahagianya menyambut kelahiran Nabi, maka umat Islam yang bersyukur dan bergembira merayakan Maulid tentu akan mendapatkan pahala dan keberkahan yang jauh lebih besar,’’ paparnya.
Allah Ta‘ala berfirman: Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu (QS Ali ‘Imran 31).
Memperingati Maulid Nabi jangan hanya dimaknai sebagai sebuah acara tahunan. Jangan sampai setelah lampu padam, panggung dibongkar, dan makanan telah habis, kecintaan kepada Rasulullah juga ikut menghilang.
Maulid merupakan momentum untuk menghidupkan kembali cinta kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita membaca sejarah hidup Nabi agar mengenal Nabi.
Kita membaca salawat agar hati semakin dekat dengan Nabi. Kita mendengarkan kisah perjuangan Nabi agar tumbuh keteladanan. Kita menghidupkan sunah Nabi agar cinta itu tidak hanya berada di lisan.
Sebab tanda seseorang mencintai Rasulullah bukan hanya seberapa meriah ia menyambut Maulid, tetapi juga seberapa kuat ia berusaha mengikuti akhlak dan ajaran Rasulullah.
Rasulullah bersabda: Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.
Maka ketika Rabiul Awal datang, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar mencintai Rasulullah?
Sudahkah lisan kita banyak membaca salawat? Sudahkah kita mengenal sejarah hidupnya?
Sudahkah akhlak kita semakin lembut karena meneladani akhlaknya? Sudahkah salat kita semakin baik? Sudahkah kita meninggalkan larangan yang beliau tinggalkan?
Sebab kecintaan yang sejati tidak hanya membuat seseorang bergembira ketika mendengar nama Nabi, tetapi juga membuatnya bersungguh-sungguh menjalankan ajaran Nabi. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto