Binrohtal di Polres Jombang: Maulid Momen Meneladani Akhlak Nabi

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:30 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

RadarJombang.id - Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (21/8), Ustad Hambali menjelaskan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

’’Maulid merupakan momentum untuk mengingat kelahiran Rasulullah sekaligus mengukur sejauh mana kecintaan kita kepada beliau. Serta sejauhmana kita meneladani akhlaknya,’’ tuturnya.

Allah Ta’ala berfirman di QS Ali Imran 31; Katakanlah (Muhammad), ’’Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, H Ainul Mubin Jelaskan Merdeka Hakiki dari Amarah dan Nafsu

Bukti cinta yakni mengikuti orang yang dicintai. Jika kita mengaku mencintai Rasulullah, maka harus berupaya mengikuti kehidupan beliau.

Allah bahkan memuji akhlak Rasulullah di QS Al-Qalam 4.

Rasulullah bukan hanya mengajarkan akhlak dengan perkataan, tetapi menjadi contoh nyata dalam kehidupan.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang: HM Fauzi Ingatkan Jangan Merasa Saleh Jika Masih Menzalimi

Nabi lemah lembut dan mudah memaafkan. Suatu ketika seorang Arab Badui datang kepada Nabi dan menarik kain selendang Nabi dengan keras hingga meninggalkan bekas pada leher beliau.

Orang itu kemudian meminta sesuatu kepada Rasulullah.

Secara manusiawi, perlakuan seperti itu tentu menyakitkan. Tetapi Rasulullah tidak membalas dengan kemarahan.

Beliau justru tersenyum dan memberikan apa yang diminta. Sehingga akhirnya orang itu masuk Islam. 

Dalam kehidupan kita, mungkin ada tetangga yang membuat kesal, teman yang mengecewakan, keluarga yang berkata menyakitkan, atau seseorang yang melakukan kesalahan kepada kita. Di situlah cinta kepada Rasulullah diuji.

Ketika marah, kita bisa berkata, ’’Saya ingin meneladani Nabi.’’

Ketika disakiti, kita berkata, ’’Saya ingin belajar memaafkan sebagaimana Nabi.’’

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Mensyukuri Kemerdekaan dengan Salat, Zakat dan Berbuat Baik

Ketika memiliki kesempatan membalas, kita memilih menahan diri. Inilah salah satu bentuk nyata merayakan Maulid.

Rasulullah sangat dermawan. Nabi tidak pernah tidur membawa uang karena sebelum tidur semua uang dihabiskan.  

Suatu ketika Nabi ngimami salat Asar lalu ingat masih punya uang. Usai salam Nabi langsung  pulang mengambil uang itu dan menyedahkankannya.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, KH Muhtarom Ungkap Hakikat Maulid Nabi dan Pentingnya Akhlak

Berbuat baik tidak harus menunggu kaya. Sedekah tidak selalu berupa uang.

Membantu orang tua, memberikan makanan kepada teman, membantu tetangga, memberikan ilmu, menolong orang yang kesulitan, bahkan tersenyum kepada sesama muslim juga termasuk kebaikan.

Rasulullah bersabda: Setiap kebaikan adalah sedekah.

Rasulullah sangat menghargai manusia. Nabi tidak membuat orang yang berbicara merasa diabaikan.

Beliau mendengarkan, memperhatikan dan memberikan penghormatan kepada orang lain.

Jarir bin Abdullah radiyallahu anhu berkata: Rasulullah tidak pernah menghalangiku sejak aku masuk Islam dan setiap kali melihatku, beliau tersenyum kepadaku.

Ketika orang tua berbicara, dengarkan. Ketika guru memberikan nasihat, perhatikan.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, KH Muhtarom Ungkap Hakikat Maulid Nabi dan Pentingnya Akhlak

Ketika teman bercerita, jangan sibuk dengan telepon genggam. Ketika seseorang sedang menyampaikan pendapat, jangan buru-buru memotong.

Hal-hal sederhana seperti itu bisa menjadi bentuk nyata meneladani Rasulullah.

Suatu ketika, seorang Arab Badui kencing di masjid. Para sahabat hendak memarahinya.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, KH Asyharun Nur: Syukuri Kemerdekaan RI agar Kelak Meraih Kemerdekaan Sejati dari Api Neraka

Namun Rasulullah justru meminta para sahabat membiarkannya terlebih dahulu.

Setelah orang itu selesai, Rasulullah menjelaskan dengan lembut bahwa masjid bukan tempat untuk kencing.

Beliau kemudian meminta agar tempat itu dibersihkan. Nabi tidak mempermalukan orang tersebut di hadapan banyak orang.

Nabi mendidik dengan kelembutan. Orang yang melakukan kesalahan belum tentu harus kita benci. Kesalahannya diperbaiki, sementara orangnya tetap kita perlakukan dengan baik. (jif/naz)

 

Editor : Achmad RW
akhlak nabi Meneladani Binrohtal maulid