Binrohtal di Polres Jombang: HM Fauzi Ingatkan Jangan Merasa Saleh Jika Masih Menzalimi

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:09 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (20/8), Pengasuh PP Sunan Ampel 3 Gudo, HM Fauzi, menjelaskan pentingnya meninggalkan larangan.

’’Beribadah kepada Allah Ta’ala bukan hanya tentang memperbanyak amal kebaikan, tetapi juga bersungguh-sungguh meninggalkan segala yang dilarang-Nya,’’ tuturnya.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah.

Dan apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah semampu kalian.

Ini menunjukkan meninggalkan larangan lebih berat.

Terhadap larangan, Nabi tidak sekadar meminta kita tidak melakukan, tetapi juga menjauhinya.

Sebagaimana disebutkan di QS Al-Baqarah 187.

Melakukan ketaatan seperti salat hanya membutuhkan beberapa menit.

Tetapi meninggalkan maksiat membutuhkan keteguhan hati yang terus-menerus.

Memiliki kesempatan membalas keburukan tetapi memilih memaafkan.

Mampu berbicara kasar tetapi memilih diam.

Mempunyai kesempatan mengambil hak orang lain tetapi memilih amanah.

Itulah perjuangan.

Menahan diri dari dosa merupakan amal yang besar.

Nabi bersabda; Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Jangan takut kehilangan sesuatu karena meninggalkan yang haram.

Jika seseorang meninggalkannya karena Allah, Allah mampu memberikan pengganti yang lebih baik.

Maksiat bukan hanya perkara dengan Allah.

Ada dosa yang berkaitan dengan hak manusia dan makhluk lainnya.

Karena itu, jangan sampai seseorang merasa sudah saleh hanya karena rajin beribadah, tetapi masih suka menzalimi manusia.

Rasulullah bersabda: Orang yang bangkrut yakni orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat.

Tetapi juga membawa dosa mencela, menuduh, mengambil harta, menyakiti, atau menzalimi orang lain.

Kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya.

Jika kebaikannya habis sebelum semua kezalimannya terbayar, maka dosa mereka dibebankan kepadanya.

Islam juga mengajarkan kasih sayang kepada binatang.

Rasulullah menceritakan seorang perempuan yang diazab karena seekor kucing.

Kucing itu dikurung, tidak diberi makan dan minum, serta tidak dilepaskan untuk mencari makanan hingga akhirnya mati.

Sebaliknya, dalam hadis lain Rasulullah mengisahkan seorang pelacur yang kehausan.

Ia menemukan sumur, minum, lalu melihat seekor anjing yang sangat kehausan.

Ia turun kembali ke sumur, mengambil air kemudian memberikan air kepada anjing tersebut.

Allah pun mengampuni dosa-dosanya.

Para sahabat bertanya, ’’Apakah kita mendapat pahala karena berbuat baik kepada binatang?’’

Nabi menjawab: Pada setiap makhluk hidup terdapat pahala.

Suatu ketika Abu Yazid al-Busthami pergi ke kota Hamedan di barat laut Iran.

Jaraknya 700 kilometer dari tempat tinggalnya di kota Bistam.

Di kota itu, Abu Yazid beli buah kesumba seperti rambutan. Dia lantas pulang.

Saat memeriksa barang yang dibeli, ternyata ada dua ekor semut yang ikut terbawa.

Meskipun semut, tapi semut juga makhluk hidup yang punya keluarga.

Punya koloni sendiri. Punya sarang sendiri. Punya habitat sendiri.

Abu Yazid merasa bersalah telah membawa kedua makhluk kecil itu keluar dari tempat asal mereka.

Maka dia segera berkemas.

Untuk kembali lagi ke kota Hamedan.

Jarak ratusan kilometer beliau tempuh, demi mengembalikan dua ekor semut kembali ke rumah mereka.

Semata-mata demi agar tidak menzalimi semut. (jif/naz)

Editor : Anggi Fridianto
Binrohtal Jombang Meninggalkan Larangan HM Fauzi kajian islam polres jombang