Binrohtal di Polres Jombang, KH Muhtarom Ungkap Hakikat Maulid Nabi dan Pentingnya Akhlak

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 08:34 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (14/8), Imam Masjid Dr H Moeldoko Bandarkedungmulyo, KH Muhtarom Alhafiz, menjelaskan kemuliaan memperingati Maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

’’Tujuan utama memperingat maulid yakni meneladani Rasulullah,’’ tuturnya.

Allah Ta’ala berfirman: Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah (QS Al-Ahzab 21).

Menyambut bulan Maulid Nabi bukan sekadar memperbanyak acara dan perayaan.

Yang lebih penting menghidupkan kembali kecintaan kita kepada Rasulullah dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Cinta kepada Rasulullah bukan hanya diucapkan dengan lisan.

Tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah dan akhlaknya.

Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang: Amal Paling Dicintai Allah Ternyata Membantu Sesama

Rasulullah bersabda: Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.

Kita harus bertanya pada diri sendiri.

Sudahkah kita benar-benar mencintai Rasulullah?

Sudahkah kita membiasakan membaca salawat?

Sudahkah kita mengenal sejarah kehidupan Nabi?

Sudahkah kita meneladani kejujurannya?

Sudahkah kita meniru kelembutan Nabi kepada keluarga, tetangga, fakir miskin dan anak-anak?

’’Salah satu akhlak terbesar Rasulullah adalah kasih sayang,’’ terangnya.

Allah Ta’ala berfirman: Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya 107).

Rasulullah mengajarkan kepada kita, kekuatan seorang muslim bukanlah hanya dalam banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga dalam akhlaknya kepada sesama.

Puncaknya ilmu adalah akhlak budi pekerti itu sendiri.

’’Jangan sampai kita rajin membaca salawat, tetapi masih mudah menyakiti da meremehkan orang lain,’’ ungkapnya.

Jangan sampai kita merayakan Maulid Nabi, tetapi masih suka mencaci.

Apalagi membenci..

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi masih meninggalkan kejujuran, amanah dan kasih sayang kepada sesama yang beliau ajarkan.

Karena hakikat Maulid adalah menghidupkan sunah Rasulullah dalam kehidupan kita.

Juga menghadirkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari kita!

’’Mari kita jadikan bulan Maulid sebagai momentum untuk memperbaiki diri.

Mumpung Allah Ta’ala masih memberi kesempatan kepada kita,’’ paparnya.

Yang selama ini jarang membaca salawat, mari kita mulai membiasakannya.

Yang selama ini jarang membaca sirah Nabi, mari kita mulai mempelajarinya.

Yang hubungannya dengan keluarga sedang renggang, mari kita perbaiki.

Yang pernah menyakiti tetangga, mari kita meminta maaf.

Sekaligus memaafkan kesalahan mereka.

Yang selama ini mudah marah, mari kita belajar menahan diri.

Yang selama ini kurang peduli kepada orang miskin, mari kita belajar berbagi.

’’Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi jalan untuk menjadikan kehidupan kita semakin dekat dengan akhlak Rasulullah.

Semoga dengan kecintaan kepada Rasulullah, kita mendapatkan syafaatnya di hari kiamat,’’ urainya. (jif/naz)

Editor : Anggi Fridianto
khotbah jumat jombang Salawat Nabi Maulid Nabi Jombang KH Muhtarom Alhafiz Akhlak Rasulullah