KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah adalah teman akrab Hadratus Syekh KH M Hasyim Asy’ary, pendiri NU. Keduanya tokoh organisasi keagamaan negeri ini yang muhlish dan berjiwa mulia. Muhammadiyah jelas mereknya sebagai organisasi dakwah, pendidikan dan sosial. Sedangkan NU sebagai organisasi keagamaan.
Kiai Ahmad Dahlan mewanti-wanti poro pengurus, ’’Hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah’’. Sedanghkan Kiai Hasyim mewakafkan tanah di daerah Jombok untuk pasar, bukan untuk masjid atau pesantren. Ya, karena gagasan utamanya adalah meningkatan ekonomi umat.
Tidak hanya itu, setiap panen kelopo yang dimuat cikar, Kiai Hasyim membagi-bagikan kelapa tersebut kepada orang miskin di sepanjang rute Desa Keras-Tebuireng. Bahkan, kadang habis sebelum sampai rumah. Bu nyai yang tahu itu, hanya terseyum saja. Itulah sifat ’’al-Rahman’’ yang diamalkan oleh kedua tokoh.
Arah dasar kedua organisasi tersebut ternyata berpengaruh pada sikap pengurusnya. Contoh, NU dan Muhammadiyah sama-sama diberi ’’tambang’’. Tapi Muhammadiyah lebih cantik mengelolanya. Ya.. karena kembali ke maslahah organisasi. Beritanya, Muhammadiyah telah membeli gereja di Belanda dan dijadikan Islamic Center. Rumah Sakit Mujito Jombang yo wis dituku Muhammadiyah.
NU..?
Baca Juga: Tafsir Aktual: Makna Rabb Sang Maha Pendidik, Pelajaran Berharga bagi Guru dan Orang Tua
Contoh kedua, MBG. Para pemilik dapur pasti untung buanyak sekali. Di kalangan Muhammadiyah, pengelolanya, Allah a’lam. Tapi kalau di lembaga NU atau di pondok pesantren, pemilik dapurnya, biasanya kalau tidak pengasuhnya sendiri, ya gus-nya.
Sebodoh-bodoh manusia Indonesia berpandangan: Harusnya dialihkan ke subsidi pendidikan yang lebih tepat, lebih manfaat dan lebih maslahah. Seperti: Pendidikan gratis, beasiswa, peningkatan gaji guru dan seterusnya. Bukan ngurusi panganan. Selain salah sasaran, ruwet and ribet.
Terus.. poro menteri, poro pendukung MBG, tentara dan kepolisian yang dapet tender dapur ribuan, itu nalar yang dipakai apa ya..?
Mosok DUIT..? Jika begitu, maka benar sekali pidato Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam di atas, ’’hubb al-dun-ya..’’
Ketiga, apakah presiden, para menteri, pejabat tidak mendengar suara rakyat yang lantang tentang MBG ..?
Jika mendengar, tapi pura-pura tidak mendengar, maka menurut kajian tafsir Alquran: Itu jelas sifat MUNAFIQ yang sangat nyata, (Albaqarah 18). Ya Tuhan, anugerahilah presiden dan wakilnya kecerdasan yang bermaslahah bagi bangsa ini.
Keempat, pertanyaan terkait eksistensi organisasi keagamaan ini: ’’Sejatinya NU itu., wasa’il atau maqashid..? Sebagai kiai dan elite NU pasti mengerti jawabannya, pasti pula paham konsekuensinya. Begini:
Pertama, jika NU sebagai wasa’il, maka NU sekedar sebagai piranti menuju tujuan utama. Jika tujuan utama sudah tercapai, maka piranti tak ada lagi guna dan manfaat. Ada, tapi ya sekadarnya saja.
Kita lihat di masyarakat: tahlilan, selametan, diba’an, ISHARI, manaqiban, tarawih dua puluh rakaat, qunut, tawassul dan lain-lain berjalan lancar, mulus dan dipandu oleh tokoh masyarakat dan kiai setempat secara ikhlas dan otomatis. Meski tanpa kedatangan pejabat NU, acara tetap berjalan. Malah kalau datang, ada kepentingan dan ribet.
Kedua, jika NU adalah maqashid, tujuan utama, maka begini ini jadinya. Yang bagus adalah dipadukan secara bagus, proporsional dan bermaslahah. Dan itu urusan poro kiai tenanan. ( bersambung, in sya’ Allah).
Editor : Anggi Fridianto