Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (12/8), Wakil Rois Syuriyah MWCNU Kecamatan Jombang, KH Asyharun Nur, menjelaskan pentingnya mensyukuri kemerdekaan.
’’Mudah-mudahan dengan mensyukuri kemerdekaan 17 Agustus, kelak kita akan memperoleh kemerdekaan sejati yakni bebas dari api neraka,’’ tuturnya.
Kemerdekaan dunia memberi kita kesempatan untuk hidup aman dan bebas. Namun, kemerdekaan yang hakiki adalah ketika kita terbebas dari dosa, mendapat ampunan Allah Ta’ala, dan kelak diselamatkan dari siksa neraka.
Allah Ta’ala mengajarkan doa yang sangat lengkap: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka (QS Al-Baqarah 201).
Kemerdekaan merupakan salah satu nikmat yang harus disyukuri. Tidak cukup hanya dengan memasang bendera, mengikuti upacara, atau menyemarakkan berbagai perlombaan.
Syukur yang lebih penting yakni menggunakan kemerdekaan untuk melakukan kebaikan.
Orang yang bersyukur akan menggunakan kebebasannya untuk beribadah, belajar, bekerja dengan jujur, menjaga persaudaraan, membantu sesama, serta menjaga kedamaian negeri.
Sebaliknya, kebebasan yang digunakan untuk bermaksiat justru dapat menjadi jalan menuju keterjajahan oleh hawa nafsu.
Karena itu, kemerdekaan harus diisi dengan amal yang membawa keselamatan dunia dan akhirat.
Tahun ini, 17 Agustus bertepatan dengan 4 Rabiulawal 1448 H, bulan Maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.
Ini menjadi kesempatan untuk mengisi kemerdekaan dengan semangat meneladani Nabi.
Kemerdekaan mengajarkan kita untuk mencintai tanah air, menghargai perjuangan para pahlawan, menjaga persatuan, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.
Sementara Maulid Nabi mengajarkan kita untuk mencintai Rasulullah, memperbanyak salawat, meneladani akhlaknya, serta mengikuti ajarannya.
Semangat kemerdekaan dan semangat Maulid Nabi dapat bertemu dalam satu nilai: Menjadi manusia yang lebih baik.
Rasulullah bersabda: Barang siapa bersalawat kepadaku sekali, Allah akan bersalawat kepadanya sepuluh kali.
Nabi juga bersabda; Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya. Yang paling dekat denganku di surga yakni yang paling banyak baca salawat.
Ketika para sahabat mendengar hal tersebut, mereka sangat gembira karena kecintaan kepada Rasulullah menjadi harapan besar bagi mereka.
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa cinta bukan sekadar ucapan. Cinta yang benar akan membuat seseorang berusaha mendekat kepada orang yang dicintainya dengan mengikuti jalan dan teladannya.
Nabi dikenal jujur, apakah kita sudah menjaga kejujuran?
Nabi menyayangi orang miskin, apakah kita sudah peduli kepada sesama?
Nabi menjaga persaudaraan, apakah kita masih gemar bertengkar dan menyebarkan kebencian?
Memperingati Maulid bukan hanya mengingat kelahiran Nabi, tetapi menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan.
Rasulullah juga mengajarkan, orang yang kuat bukan yang mampu mengalahkan orang lain. Tapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Maka, momentum kemerdekaan dapat menjadi saat yang tepat untuk membebaskan diri dari kebiasaan buruk: Merdeka dari malas beribadah. Merdeka dari kebohongan. Merdeka dari permusuhan. Merdeka dari iri hati, dan merdeka dari dosa yang selama ini mengikat diri. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto