JOMBANG -Saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (12/8), KH M Adib Hamzawi dari PP Tarbiyatun Nasyiin Pacul Gowang, Diwek, menjelaskan pentingnya bersyukur.
’’Syukur membuat nikmat awet, kufur membuat nikmat pergi,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman di QS Ibrahim ayat 7.
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.
Syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat.
Sebaliknya, mengingkari nikmat atau kufur nikmat dapat menjadi sebab datangnya kemurkaan dan hilangnya keberkahan.
Hakikat syukur menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan Allah Ta’ala memberikan nikmat tersebut, yakni untuk mendekatkan diri dan taat kepada-Nya.
Orang yang diberi ilmu bersyukur dengan mengamalkan dan mengajarkannya.
Orang yang diberi harta bersyukur dengan menggunakannya secara halal dan berbagi kepada sesama.
Orang yang diberi kesehatan bersyukur dengan menggunakannya untuk beribadah dan melakukan kebaikan.
Syukur memiliki tiga dimensi: hati, lisan, dan perbuatan.
Hati menyadari semua nikmat berasal dari Allah.
Lisan memuji-Nya dengan mengucapkan hamdalah.
Sedangkan anggota badan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan dan ketaatan.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala.
Karena itu, jangan mudah lupa mengucapkan terima kasih kepada orang tua, guru, pasangan, saudara, teman, tetangga, dan siapa pun yang telah memberikan kebaikan.
Menghargai manusia merupakan bagian dari akhlak seorang yang pandai bersyukur.
’’Besok kita sudah masuk bulan Maulid Nabi Muhammad.
Ini momentum untuk memperbarui rasa syukur atas diutusnya Rasulullah,’’ urainya.
Allah Ta’ala berfirman: Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya 107).
Kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad merupakan nikmat yang sangat agung bagi umat manusia.
Melalui Nabi, Allah Ta’ala mengenalkan kita jalan iman, ibadah, akhlak, dan kehidupan yang diridai-Nya.
Salah satu bentuk syukur atas nikmat Rasulullah yakni memperbanyak salawat dan mengadakan kegiatan maulid.
Serta menghidupkan sunah dan akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
’’Pada bulan maulid harus diperbanyak salawat,’’ sarannya.
Ubay bin Ka‘ab radiyallahu anhu bertanya; Wahai Rasulullah, aku memperbanyak salawat untukmu.
Berapa bagian dari doaku yang kujadikan untuk berselawat kepadamu?
Nabi menjawab, ’’Sesukamu.’’
Sampai akhirnya Ubay mengatakan, ia akan menjadikan seluruh doanya untuk bersalawat.
Kemudian Nabi bersabda: ’’Kalau demikian, niscaya kegelisahanmu akan dicukupi dan dosamu akan diampuni.’’
Rasulullah ketika ditanya tentang puasa Senin menjelaskan: ’’Itu hari ketika aku dilahirkan.’’
Jadi Nabi pun memperingati hari kelahirannya.
’’Kita mau keluar uang untuk ulang tahun istri dan anak, padahal mereka belum tentu bisa memberi syafaat di akhirat.
Masak untuk ulang tahun Nabi yang diharap syafaatnya kita tidak mau keluar uang,’’ urainya.
Kita juga harus mensyukuri nikmat kemerdekaan 17 Agustus yang segera tiba.
Mengisi kemerdekaan dengan kebaikan: Menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menaati aturan, belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, membantu sesama, dan menjaga negeri dari berbagai kerusakan.
Serta menghidupkan spirit berjuang dan kepahlawanan.
(jif/jif)
Editor : Anggi Fridianto