Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (10/8), Pengasuh Pondok Pesantren Zainur Rosyid, Tapen, Kudu, Dr H Agus Sholahuddin, menjelaskan jenis utang.
’’Ada utang kepada Allah dan kepada sesama manusia,’’ tuturnya.
Utang kepada Allah berupa nazar.
’’Nazar ini membuat doa kita cepat diijabah oleh Allah Ta’ala,’’ terangnya.
Misalnya nazar bila naik pangkat akan sedekah kepada semua anggota Polres.
Maka akan cepat naik pangkat.
Dan ketika naik pangkat nazarnya wajib dilaksanakan.
’’Jika utang kepada sesama manusia harus niat membayar, segera membayar ketika mampu, dan mencatat utang yang bertempo,’’ ungkapnya.
Pertama, berniat sungguh-sungguh untuk membayar utang.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa utang dengan niat untuk membayarnya, Allah akan menolongnya untuk membayarnya.
Dan barang siapa utang dengan niat merusaknya, Allah akan membinasakannya.
Kedua, segera membayar ketika sudah mampu.
Apabila seseorang telah memiliki kemampuan untuk membayar utangnya, jangan sengaja menunda-nunda.
Rasulullah bersabda: Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah kezaliman.
Ketiga, utang sebaiknya dicatat.
Allah Ta’ala memberikan perhatian khusus terhadap masalah utang.
Bahkan, ayat terpanjang dalam Alquran adalah ayat tentang pencatatan utang, QS Al-Baqarah ayat 282.
Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.
Mencatat utang merupakan bentuk kehati-hatian dan menjaga hubungan baik.
Bisa jadi seseorang lupa jumlah utangnya, lupa batas waktu pembayaran, atau terjadi perbedaan ingatan antara pihak yang berutang dan pihak yang memberikan utang.
Dengan adanya catatan, semuanya menjadi jelas.
Ketika ada jenazah, Rasulullah selalu tanya dulu dia punya utang atau tidak.
Jika masih punya utang, Nabi tidak mau mensalati.
Jika sudah ada yang menanggung utangnya, Nabi baru mau mensalati.
Suatu hari, sahabat mengajak Nabi menyalati jenazah.
Nabi bertanya, ’’Apakah mayat laki-laki itu meninggalkan utang?’’
’’Iya, sebanyak empat dirham,’’ jawab sahabat.
Nabi lalu bersabda; Salatkanlah laki-laki itu oleh kalian, karena aku tidak mau mensalati orang yang memiliki utang, lalu meninggal dan belum melunasinya.
Tidak lama setelah itu, turunlah malaikat Jibril dan berkata, ’’Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah titip salam kepadamu dan berpesan, ‘Aku telah mengutus Jibril dalam rupa manusia dan melunasi utang laki-laki itu.’ Maka bangkitlah engkau dan salatkanlah jenazah itu. Sebab, ia telah diampuni Allah dan Dia juga menyampaikan, siapa saja yang mensalati jenazah tersebut, maka dia juga turut diampuni.’’
Penasaran terhadap alasannya, Nabi pun bertanya kepada malaikat Jibril, ’’Wahai saudaraku Jibril, dari manakah kemuliaan laki-laki yang meninggal itu?’’
Jibril menjelaskan, ’’Berkat membaca Surat al-Ikhlas setiap hari sebanyak seratus kali. Pasalnya, di dalam surat itu terdapat penjelasan sifat-sifat Allah dan pujian kepada-Nya. Dan siapa saja yang membaca Surat al-Ikhlas satu kali seumur hidupnya, maka dia tidak akan keluar dari dunia ini (meninggal), kecuali telah melihat tempatnya di surga. Siapa saja yang membaca surat ini dalam salat lima waktu, maka pada hari kiamat akan diberi syafaat, bahkan diberi kesempatan untuk memberikan syafaat kepada kerabatnya yang telah divonis masuk neraka.’’
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto