Binrohtal di Polres Jombang, Gus Falah Ajak Isi Kemerdekaan dengan Amal Saleh

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 07:18 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (4/8), Pengurus MWC NU Kecamatan Gudo, Gus Falah, menjelaskan kiat mensyukuri kemerdekaan. ’’Mensyukuri kemerdekaan harus dengan hati, lisan dan perbuatan,’’ tuturnya.

 

Nikmat kemerdekaan karunia yang tidak ternilai. Dahulu bangsa ini hidup di bawah penjajahan selama ratusan tahun. Dengan rahmat Allah Ta’ala, perjuangan para ulama, santri, pejuang dan seluruh rakyat akhirnya membuahkan kemerdekaan.

 

Pertama, bersyukur dengan hati. Meyakini sepenuh hati, kemerdekaan anugerah Allah, bukan semata hasil kekuatan manusia. Allah Ta’ala berfirman di QS An-Nahl 53; Segala nikmat yang ada pada kalian dari Allah Ta’ala.

Hati yang bersyukur akan dipenuhi rasa cinta kepada Allah, bangga terhadap negeri sendiri, dan menghargai jasa para pahlawan.

 Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang: Dua Amalan Ini Bikin Derajat Lebih Tinggi dari Malaikat

Kedua, bersyukur dengan lisan. Mengucapkan Alhamdulillah, mendoakan para pahlawan, menceritakan perjuangan mereka kepada generasi muda, serta menggunakan lisan untuk mengajak kepada persatuan.

 

Allah berfirman: Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah (QS Ad-Duha 11).

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.

Mengenang jasa para pahlawan juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan.

 

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan. Inilah bentuk syukur yang paling nyata, yaitu mengisi kemerdekaan dengan amal saleh, belajar sungguh-sungguh, bekerja jujur, menjaga persatuan, menaati aturan, serta ikut membangun bangsa.

 

Allah berfirman; Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur (QS Saba' 13).

 

Rasulullah bersabda: Ada tiga perkara yang menyelamatkan: Bertakwa kepada Allah ketika sendiri maupun di hadapan orang banyak. Bersikap sederhana ketika miskin maupun kaya. Serta berlaku adil ketika senang maupun marah.

Takwa menjadikan bangsa memiliki integritas. Kesederhanaan mencegah hidup berlebihan dan korupsi. Keadilan menciptakan persatuan dan kedamaian.

 

Imam Ibn Atha'illah berkata: Siapa yang tidak mensyukuri nikmat berarti ia membuka jalan bagi hilangnya nikmat tersebut. Siapa yang mensyukurinya, ia telah mengikat nikmat itu agar tetap bersamanya.

 Imam Hasan Al-Bashri berkata: Allah memberikan kenikmatan selama Dia kehendaki. Jika nikmat itu tidak disyukuri, Dia dapat mengubahnya menjadi musibah.

 

Ketika Rasulullah berhasil menaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), beliau tidak memasuki kota dengan penuh kesombongan sebagai pemenang. Nabi memasuki Makkah sambil menundukkan kepala hingga hampir menyentuh pelana untanya sebagai bentuk tawaduk dan syukur kepada Allah.

Ini mengajarkan, keberhasilan dan kemenangan hendaknya disambut dengan rasa syukur, bukan kesombongan. Demikian pula kemerdekaan Indonesia harus diisi dengan kerendahan hati, persatuan, dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

 

KH Hasyim Asy'ari melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, menggerakkan umat untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban agama. Setelah kemerdekaan diraih, perjuangan tidak berhenti. Beliau terus menekankan pentingnya membangun bangsa melalui pendidikan, akhlak, persatuan, dan penguatan ilmu. Ini menunjukkan, rasa syukur tidak cukup diwujudkan dalam seremoni, tetapi juga dalam pengabdian nyata kepada agama, bangsa dan negara. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
Binrohtal Jombang NU Jombang HUT RI Jombang Jombang polres jombang