Gus Zuem: Muktamar Banyak Kamar

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 05:40 WIB

 

Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As'ad

 

MUKTAMAR bukan sekadar agenda lima tahunan. Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), muktamar adalah saat pemilik dan penumpang sebuah kapal besar mengevaluasi nahkoda, awak kapal dan perjalannya.

Kapalnya sangat besar, penumpangnya jutaan, pelayarannya melintasi berbagai samudra zaman, dan ombak yang dihadapi tidak pernah kecil.

Karena itu, setiap menjelang muktamar, denyut harapan warga NU di berbagai penjuru tanah air ikut berdebar.

Muktamar ke-35 yang akan digelar di Ponpes Tambakberas, Jombang, kali ini membawa harapan yang sama. Para kiai, santri, pengurus, hingga warga nahdliyin di desa-desa mungkin tidak semuanya mengikuti dinamika organisasi secara detail.

Namun mereka hampir pasti memanjatkan doa yang sama: semoga muktamar berlangsung lancar, menghasilkan pemimpin terbaik, dan mewujudkan NU sebagai rumah besar yang teduh bagi semua.

Doa itu terasa semakin penting ketika dalam beberapa bulan terakhir kita saksikan gesekan demi gesekan di tubuh jam’iyah begitu mencolok. Bahkan sejak proses penentuan lokasi tuan rumah saja, perbedaan pendapat sudah terasa cukup alot. Perbedaan tentu bukan masalah.

Baca Juga: Gus Zuem: Merawat Santri Gen Z

Justru organisasi yang sehat memang memberi ruang bagi beragam pandangan. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan mulai kehilangan nuansa keadaban.

Akibatnya, pas saya tahlilan di tetangga kemarin, orang sebelah saya berbisik : "NU kok tambah koyok partai yo, gus..?" (NU kok makin seperti partai ya, gus.?). Saya hanya bisa merespon dengan senyuman dan gelengan kepala.

Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi ia lahir dari kegelisahan. Dia mungkin merasakan bahwa sekarang kursi kepemimpinan seolah berubah menjadi barang mewah yang diperebutkan secara terbuka. Rumor (rasan-rasan) tentang lobi-lobi politik, pemetaan dukungan, hingga kabar mengenai "harga” suara per cabang beredar begitu kencang.

 Benar atau tidaknya tentu bukan hak kita untuk menghakimi. Namun, ketika rumor semacam itu lebih ramai daripada pembicaraan tentang program keumatan, tentu ada sesuatu yang patut direnungkan bersama. Terlebih bila kita mengingat nilai-nilai pengabdian ( Khidmah ) dan keikhlasan yang sangat ditekankan oleh para muassis NU.

Di sisi lain, realitasnya kini sangat berbeda. Para kandidat tampil lebih terbuka menunjukkan kesiapan, bahkan ghirah-nya ( untuk tak menyebut ambisi ).

Itu sebenarnya tidak salah. Setiap organisasi membutuhkan kader-kader yang siap memimpin. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kompetisi mengalahkan ukhuwah. Jangan sampai setelah muktamar selesai, yang tersisa justru luka yang sulit disembuhkan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ketika muktamar berlangsung, akan muncul banyak kamar konsolidasi. Di setiap hotel, penginapan, rumah, bahkan warung kopi, akan ada pertemuan-pertemuan kecil untuk menyamakan langkah strategis tiap kelompok. Itulah dinamika organisasi besar. Sulit dihindari. Yang saya khawatirkan bukan banyaknya kamar itu, tapi ketebalan tembok resistensi penghuni kamarnya.

Dalam dunia perhotelan ada istilah connecting door, dua kamar berbeda yang dihubungkan oleh satu pintu penghubung di tengahnya.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU di Jombang, Rektor Unhasy Berharap Lahirkan Ketua PBNU yang Mampu Tingkatkan SDM Nahdliyin

Penghuninya tetap memiliki privasi masing-masing, tetapi sewaktu-waktu dapat saling berkunjung tanpa harus keluar dari kamar. Barangkali itulah metafora yang kita perlukan dalam muktamar nanti.

Ingat, muktamar hanya berlangsung beberapa hari, sedangkan NU akan terus berjalan bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Karena itu, kemenangan sejati bukanlah ketika “jago” kita terpilih. Kemenangan sejati adalah ketika semuanya dapat kembali duduk dalam satu saf, saling berjabat tangan, lalu bergandengan tangan bersama-sama melayani umat.

Untuk itu, silakan berbeda kamar. Silakan berbeda pilihan. Silakan berbeda strategi. Tetapi jangan pernah menutup connecting door itu. Karena permainan pasti berakhir. Maka pintu silaturahim harus tetap terbuka. Sebab setelah muktamar selesai, semua kamar akan dibongkar. Yang tersisa hanyalah satu rumah besar yang bernama Nahdlatul Ulama.

Jangan sampai demi memenangkan kepentingan penghuni kamar, kita kehilangan sertifikat rumah besarnya. Naudzubillah.

Editor : Anggi Fridianto
Muktamar NU 2026 Opini NU Muktamar Jombang Nahdlatul Ulama pbnu