Binrohtal di Polres Jombang, KH Khairil Anam: Jangan Hanya Rajin Ibadah Ritual, Ibadah Sosial Jauh Lebih Bermakna

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 07:03 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

 

 

JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (27/7),

Anggota Komisi Dakwah MUI Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan pentingnya ibadah sosial.

’’Jangan hanya fokus ibadah ritual, ibadah sosial sangat penting maka jangan ditinggalkan.  Jadilah orang yang bermanfaat bagi yang lain. Jangan jadi orang yang pasif,’’ tuturnya.

 

Beliau lalu menyampaikan kisah Ibrahim bin Adham dan Syaqiq al-Balkhi, semoga Allah merahmati keduanya.

Suatu ketika, dua tokoh besar tasawuf ini bertemu. Ibrahim bin Adham meminta kepada Syaqiq agar menceritakan perjalanan spiritualnya hingga menjadi seorang ahli ibadah dan sufi yang disegani.

 

Syaqiq pun berkisah. ’’Suatu hari aku melakukan perjalanan melintasi sebuah gurun yang sangat luas. Karena kelelahan diterpa panas matahari, aku berhenti untuk beristirahat.’’

 Baca Juga: Binrohtal Polres Jombang, KH Abdul Basit Jelaskan Peran Ulama dan Pemimpin dalam Islam

Di tengah istirahat itu, pandangannya tertuju pada seekor burung yang tergeletak di pasir. Burung itu ternyata memiliki sayap yang patah sehingga tidak mampu terbang mencari makan.

 

Syaqiq bertanya dalam hati, ’’Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup?’’

Tidak lama kemudian datang seekor burung lain yang sehat. Di paruhnya terdapat seekor belalang. Burung itu menghampiri burung yang terluka, lalu menyuapkan belalang tersebut ke paruhnya.

Melihat peristiwa itu, Syaqiq takjub.

’’Subhanallah. Allah benar-benar menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.’’

Allah Ta'ala memang berfirman: Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya (QS Hud 6).

 

Firman-Nya yang lain: Betapa banyak makhluk yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepadamu (QS Al-'Ankabut 60)

 

Sejak menyaksikan kejadian itu, Syaqiq berkata; Aku pun berpikir, jika burung yang patah sayap saja diberi rezeki oleh Allah, maka aku pun akan dicukupi-Nya. Karena itulah aku memilih memperbanyak ibadah dan meninggalkan pekerjaan.

 

Mendengar kisah tersebut, Ibrahim bin Adham tersenyum, lalu berkata; ’’Wahai Syaqiq, mengapa engkau memilih menjadi burung yang patah sayapnya? Mengapa engkau tidak memilih menjadi burung yang sehat, yang mampu memberi makan saudaranya?’’

Ucapan itu membuat hati Syaqiq tersentak. Ia segera memegang dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata; ’’Wahai Ibrahim, engkau adalah guruku.’’

Sejak saat itu, ia memahami bahwa bertawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, melainkan berusaha semaksimal mungkin sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.

 

Perhatikanlah, burung dalam hadis tersebut tetap terbang mencari makan, bukan berdiam diri di sarangnya.

Bahkan Allah Ta’ala memerintahkan manusia agar berusaha setelah menunaikan ibadah. Sebagaimana disebutkan di QS Al-Jumu'ah 10; Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.

Rasulullah juga bersabda: Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangannya sendiri. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Allah Ta’ala senantiasa menolong hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
Binrohtal Jombang Kajian Islam Jombang KH Khairil Anam Jombang Jombang polres jombang