JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (13/7),
Sekretaris MWC NU Kecamatan Jombang, Dr KH Abdul Basit Misbachul Fitri, menjelaskan pentingnya ulama dan umara. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Ada dua golongan manusia; apabila keduanya baik, maka manusia baik. Apabila keduanya rusak, maka manusia rusak, yaitu ulama dan pemimpin,’’ tuturnya.
Ketika keduanya menjalankan amanah sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, masyarakat akan merasakan keamanan, keadilan serta keberkahan. Sebaliknya, apabila keduanya rusak, kerusakan akan meluas ke berbagai sendi kehidupan.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang: Keutamaan Harus Diiringi Tanggung Jawab
Allah Ta'ala berfirman di QS An-Nisa' 59; Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.
Keberadaan pemimpin merupakan kebutuhan umat. Pemimpin yang adil akan menjaga keamanan, menegakkan hukum dan melindungi hak-hak masyarakat. Namun, ketaatan kepada pemimpin tetap berada dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh taat pemimpin dalam kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman di QS Faṭir 28; Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.
Rasulullah bersabda; Ulama pewaris para nabi. Mereka mengajarkan ilmu. Membimbing umat menuju jalan yang benar. Serta menjadi pelita di tengah gelapnya kebodohan.
KH Hasyim Asy’ari Tebuireng memberi teladan sangat bagus. Dulu tiap Senin pasukan penjajah mengambili hasil panen milik para petani. Mengetahui hal itu, tiap Senin Kiai Hasyim meliburkan ngaji demi bisa mendampingi para petani sehingga penjajah tidak berani mengambil hasil panen.
Pemimpin yang adil memperoleh kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda: Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yang pertama, pemimpin yang adil.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Manusia tidak akan dapat hidup tertata tanpa adanya seorang pemimpin, baik ia seorang yang saleh maupun yang masih memiliki kekurangan.
Keberadaan pemimpin diperlukan demi tegaknya ketertiban. Tentu yang paling utama pemimpin yang bertakwa dan adil.
Imam al-Ghazali menyatakan; Agama dan kekuasaan saudara kembar. Agama fondasi, sedangkan kekuasaan penjaganya. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi akan roboh, dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga akan hilang.
Ulama dan umara tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus saling menguatkan demi kemaslahatan umat.
Umar bin Abdul Aziz setelah diangkat menjadi khalifah, mengirim surat kepada ulama besar Hasan al-Bashri untuk meminta nasihat tentang cara menjadi pemimpin yang adil.
Hasan al-Bashri kemudian menulis surat yang mengingatkan: Ketahuilah, pemimpin yang adil laksana ayah yang penyayang bagi anak-anaknya. Ia bekerja untuk kemaslahatan rakyatnya, menjaga yang lemah, menolong yang tertindas dan menegakkan hak-hak mereka.
Umar bin Abdul Aziz kemudian mengembalikan harta yang bukan haknya ke Baitul Mal. Memberantas kezaliman para pejabat. Serta mengangkat para gubernur yang amanah.
Dampaknya, kesejahteraan rakyat meningkat. Hingga sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat di beberapa wilayah pemerintahannya.
Ulama penunjuk jalan menuju rida Allah, sedangkan umara penjaga ketertiban dan keadilan di tengah masyarakat. Ketika keduanya sama-sama bertakwa, saling menghormati dan bekerja demi kemaslahatan umat, lahirlah masyarakat yang damai, aman, dan penuh keberkahan. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto