Binrohtal di Polres Jombang, KH As'ad Nawawi Ungkap 5 Hal yang Dicintai Manusia tetapi Membuat Lupa Akhirat

Rojiful Mamduh • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 06:54 WIB
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)
Ilustrasi sejumlah anggota Polres Jjombang mendengarkan tausyah kiai di masjid Polres Jombang (AI)

 

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (21/7), Pengasuh PP Tahfidzul Quran Roudhotul As’adiyah, Semanding, Sumbermulyo, Jogoroto, KH As'ad Nawawi Alhafid, menjelaskan hal yang harus dihindari. 

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Akan datang suatu zaman pada umatku, mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara. Mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat. Mencintai kehidupan dan melupakan kematian. Mencintai istana-istana dan melupakan kuburan. Mencintai harta dan melupakan hisab. Serta mencintai makhluk dan melupakan Sang Pencipta,’’ tuturnya.

 Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Bersama Allah di Setiap Langkah Kehidupan

Pertama, mencintai dunia, melupakan akhirat. Allah Ta’ala berfirman di QS Al-A'la 16–17. Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

 

Rasulullah bersabda: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.

Seorang mukmin tidak dilarang mencari dunia. Islam justru menganjurkan bekerja dan mencari rezeki yang halal. Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan utama. Dunia hanyalah ladang untuk menanam amal bagi kehidupan akhirat.

 

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz menangis ketika memasuki istana kekhalifahan. Istrinya bertanya mengapa beliau menangis. Dia menjawab, ’’Aku teringat betapa berat hisab yang akan kutanggung karena jabatan ini.’’ Sejak itu beliau hidup sederhana meski menjadi khalifah.

 

Kedua, mencintai kehidupan, melupakan kematian. Allah Ta’ala berfirman di QS Ali 'Imran 185. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

Rasulullah bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.

Mengingat kematian bukan untuk membuat seseorang putus asa, melainkan agar lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Uwais al-Qarani dikenal sering menangis ketika mengingat kematian. Beliau berkata; ’’Malam ini mungkin malam terakhirku.’’ Karena itulah beliau selalu memperbanyak ibadah dan amal saleh.

 

Ketiga, mencintai istana, melupakan kuburan. Allah Ta’ala berfirman di QS At-Takatsur 1–2:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.

 

Rumah yang megah bukanlah sesuatu yang haram. Namun, jika kemewahan membuat hati sombong dan lupa kepada Allah, maka itulah yang tercela.

Harun ar-Rasyid pernah meminta nasihat kepada ulama besar Fudhail bin Iyadh. Fudhail berkata; Wahai Amirul Mukminin, jika engkau haus di padang pasir dan tidak mendapatkan air kecuali harus menebusnya dengan separuh kerajaanmu, apakah engkau akan menebusnya? Harun menjawab, ’’Ya.’’ Lalu jika air itu tidak bisa keluar dari tubuhmu kecuali dengan separuh kerajaanmu lagi? Harun menjawab, ’’Ya.’’ Maka Fudhail berkata, ’’Kalau begitu, jangan bangga dengan kerajaan yang nilainya tidak lebih dari seteguk air.’’

 

Keempat, mencintai harta, melupakan hisab. Allah berfirman: Kemudian pada hari itu kamu benar-benar akan ditanya tentang semua kenikmatan (QS At-Takatsur 8).

 

Rasulullah bersabda: Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya... tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya.

Abdurrahman bin Auf sahabat yang sangat kaya. Suatu ketika, dia menyedekahkan seluruh dagangannya yang diangkut 700 unta dari Syam kepada penduduk Madinah.

 

Kelima, mencintai makhluk, melupakan Sang Khalik. Nabi bersabda; Tidak akan merasakan manisnya iman sebelum mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
Masjid Agung Junnatul Fuadah KH As'ad Nawawi tausiah Jombang kajian islam polres jombang