JOMBANG - MEMANDANGI barisan santri baru dalam apel penutupan PLPSM (Pengenalan Lingkungan Pesantren Sekolah-Madrasah) kali ini, sangat mengharukan.
Di tengah derasnya berita negatif tentang pesantren, masih ada ribuan anak yang mantap memutuskan menjadi santri. Mereka tetap mengemas pakaian, berpamitan kepada orang tua, lalu memasuki gerbang pesantren dengan segala harap dan cemas. Keputusan nyantri itu, hari-hari ini, bukanlah pilihan yang ringan.
Media sosial membuat satu peristiwa buruk lebih cepat menyebar daripada seribu kabar baik. Kasus kekerasan, pelanggaran asusila oleh oknum, hingga konten yang menghakimi tradisi pesantren tanpa memahami nilai filosofisnya, silih berganti memenuhi beranda medsos.
Akibatnya, citra pesantren sering dibangun oleh prasangka, bukan oleh kenyataan bahwa ribuan pesantren setiap hari mendidik jutaan santri dengan penuh keteladanan.
Karena itu, saya memandang para santri baru dengan apresiasi yang sangat tinggi. Mereka memilih mondok ketika pesantren sedang menghadapi ujian kepercayaan publik.
Penghargaan yang sama, layak diberikan kepada para wali santri yang masih mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada pesantren. Kepercayaan seperti ini harus dijaga dan rawat.
Salah satu cara merawatnya adalah memahami karakter santri baru yang merupakan Generasi Z. Mereka tumbuh bersama internet, terbiasa memperoleh respons cepat, dan hidup dalam budaya yang menghargai pengakuan, validasi. Cara mereka menerima kritik dan menghadapi tekanan tentu berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.
Sering muncul guyonan bahwa anak-anak era 1990-2000-an adalah "generasi bengkuang": tanpilannya sederhana tetapi kuat dan tahan banting. Sementara Gen Z disebut "generasi stroberi": tampak menarik, tetapi mudah memar bahkan lumat ketika mendapat tekanan. Meski hanya analogi, perbandingan itu mengingatkan bahwa pendekatan pendidikan tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan pola lama.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU ke-35, Gus Zuem Ungkap Kriteria Sosok Ideal Ketua Umum PBNU
Dalam apel tersebut para kiai berpesan agar seluruh kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan penuh kegembiraan dan menyenangkan.
Tentu bukan berarti disiplin harus dikendurkan. Justru kedisiplinan merupakan ruh pendidikan pesantren. Yang perlu diperbarui adalah pendekatan dalam menegakkannya.
Santri yang melanggar tetap harus menerima konsekuensi, tetapi apresiasi terhadap kepatuhan, penghargaan atas kemajuan sekecil apa pun, dan komunikasi yang hangat adalah lebih efektif dalam membentuk karakter daripada hukuman semata.
Di sisi lain, wali santri juga perlu memahami bahwa pemberian ta'zir (hukuman) tidaklah dimaksudkan untuk menekan santri. Pihak pesantren ( Darul’Ulum misalnya ), menerapkannya secara proporsional, manusiawi, dan tidak merendahkan martabat santri.
Ta'zir merupakan bagian dari pendidikan tanggung jawab. Karena itu, ketika anak mengeluh mendapat konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya, sikap walisanri bukanlah langsung menghakimi pesantren, melainkan membangun komunikasi dengan pengasuh/pembina dan menasihati anak agar belajar bertanggung jawab.
Merawat santri Gen Z bukan berarti memanjakan mereka atau mengurangi standar pendidikan pesantren. Yang harus berubah bukan nilai-nilainya, melainkan cara menyampaikannya. Disiplin tetap ditegakkan, adab tetap dijaga, tetapi semuanya diekspresikan dengan komunikasi yang lebih hangat, penghargaan yang lebih tulus, dan keteladanan yang lebih kuat.
Baca Juga: Gus Zuem: Bola Kesebelasan NU
Sebab, masa depan pesantren tidak hanya ditentukan oleh kokohnya tradisi, tetapi juga oleh kemampuannya merawat generasi yang akan melanjutkan tradisi itu sendiri.
Untuk itu, kepada para santri dan wali santri saya ucapkan selamat atas keteguhan hati dan semangat juang Anda dalam menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan untuk anak tercinta .
Dan kepada para pengasuh pesantren dimana pun berada, selamat melakukan adaptasi strategi pembelajaran yang menyenangkan dan ramah anak, agar mereka nyaman dan betah belajar di pesantren Anda hingga lulus dengan sukses. Semoga barakah segalanya.
Editor : Anggi Fridianto