Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Rabbil Alamin Sering Diartikan Tuhan Semesta Alam, Benarkah Terjemahan Ini Keliru?

Rojiful Mamduh • Sabtu, 18 Juli 2026 | 08:38 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

 

JOMBANG - Rabbil ‘alamin. Arti rabb sudah diunggah sebelumnya, kini apa arti al-alamin..? Bentuk mufrad (tunggal)-nya adalah ‘alam, artinya Ma siwa Allah, alam semesta, selain Allah Ta’ala atau semua makhluk baik yang berakal maupun tidak.

Jika dijamakkan dengan pola taksir, ’’awalim’’, maknanya tetap. Jika dijamakkan dengan pola salim, mudzakkar salim, ’’alamun, ‘alamin’’ maka maknanya berubah menjadi khusus ‘uqala, makhluk berakal, yakni: Manusia dan Jin, meski ada yang menambahkan dengan  malaikat.

Selain jin dan manusia tidak diomongi oleh Alquran. Diperkuat dengan tesis, bahwa para Rasul diutus untuk mendakwahi dua komunitas ini, jin dan manusia.

Dan.. dari sekian kata ‘alamin  di dalam Alquran bermaknakan makhluk berakal.

Baca Juga: KH Mustain Syafii: Makna Tanda-Tanda Islam Makin Mendunia? Ratusan Gereja di Eropa Disebut Berubah Jadi Masjid

Buku ’’Al-qur’an dan Terjemah’’ terbitan Kementrian Agama RI ’’keliru’’ memaknai ini. Tertulis kalimat: ’’.. Tuhan seluruh alam’’  sebagai terjemahan Rabbil ‘alamin.

Lafad ini unik. Ketika berbentuk mufrad (‘alam), maknanya jamak (seluruh makhluk, berakal maupun tidak). Tetapi saat berbentuk jamak (‘alamun, ‘alamin), maknanya malah menjadi mufrad: Jin dan manusia, makhluk berakal saja.

Sekali lagi, karena hanya dua makluk ini yang kewajiban ibadah. Wa ma khalaqtu al-

jinn wa al-ins illa liya’budun (al-Dzariyat:56).

 

Al-Rahman al-Rahim, dua sifat Tuhan ini sengaja ditampilkan terdepan agar manusia mencohtoh. Meniru sebisa-bisanya. Dia Maha penyayang dan memberi tanpa tendensi maupun pamrih. Pokoknya memberi begitu saja, karena tugasnya sebagai Tuhan, ya menyayangi, memberi.., titik.

Perkoro yang diberi mengerti atau tidak, itu soal dia. Mengerti, berarti beruntung, tidak mengertipun Tuhan tidak kecewa dan tidak tersinggung. Makanya, kalau pembaca mau mulia, mau memliki sifat Tuhan, maka sayangilah orang yang membenci Anda. Berilah uang, tebarlah senyum kepada orang yang memusuhi Anda. Piye..? Iso ta..?

Kalau memberi kepada orang yang disenangi, wong sing apikan, maka arek cilik begitu. Si Kecil berbagi permen dengan temannya yang kemarin telah memberi permen. Ada orang memberi, dermawan sekali, karena ono karepe..? Yaitu calon kepala daerah, wakil rakyat dan sebagainya.

Oleh karenanya, resapi pitutur kuno ini: ’’Kebaikan dibalas dengan kebaikan, itu biasa. Kejahatan dibalas dengan kejahatan, itu sama-sama jahat. Kejahatan dibalas dengan kebaikan, maka itu terpuji dan luar biasa.’’

Baca Juga: KH Mustain Syafii: Surah Al-Fath dan Pelajaran Fathu Makkah: Kemenangan Tanpa Dendam

Dari sekian praktik kasih sayang, yang paling tinggi derajatnya adalah kasih sayang ibu kepada anak. Rela sari makanannya, air susu, diberikan kepada sang bayi. Sementara dirinya menjadi lapar. Sing nemen and kebangeten justru bapaknya. Sudah tahu seharian istrinya repot dan menyusui bayi, malam hari.. eh.. wis gak mijeti, malah iri, minta disusui.

 

Ditingkatkan lagi, yang tertinggi adalah kasih induk burung. Sang induk makan biji-

bijian atau makanan padat, lalu diolah di dalam perut, dilembutkan sesempurna mungkin. Lalu.. pada waktunya dimuntahkan kembali demi memberi makan anaknya. Sungguh kualat anak yang mendurhakai orang tuanya.

 (bersambung, in sya’ Allah).

 

 

Editor : Anggi Fridianto
Rabbil Alamin makna Alamin Ar Rahman Ar Rahim kajian islam tafsir alquran