Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Ustaz Addin Mustaqim Jelaskan 3 Cara Bersyukur yang Benar

Rojiful Mamduh • Rabu, 15 Juli 2026 | 07:14 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

JOMBANG - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (14/7), Ustad Addin Mustaqim Alhafiz dari PP Al Amanah, Ngledok, Desa Mojokrapak, Tembelang, menjelaskan pentingnya bersyukur.

’’Agar mudah bersyukur hitunglah nikmat sendiri, jangan menghitung nikmat orang lain,’’ tuturnya.

 

Allah Ta’ala berfirman di QS An-Nahl 18. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.

 

Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat Allah tidak terbatas jumlahnya. Nikmat iman, Islam, kesehatan, waktu, keluarga, udara yang kita hirup, kemampuan melihat, mendengar, berpikir, hingga kesempatan untuk beribadah merupakan karunia yang tidak mungkin dapat dihitung satu per satu.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.

 

Ketika kita membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya, lebih sukses, atau lebih terkenal, rasa syukur perlahan akan memudar. Sebaliknya, ketika kita melihat saudara-saudara yang diuji dengan sakit, kemiskinan, atau musibah, kita akan menyadari betapa besar nikmat yang selama ini kita nikmati.

 

Allah Ta’ala berjanji: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu (QS Ibrahim 7).

 

Syukur memiliki tiga rukun.

Pertama, bersyukur dengan lisan. Mengucapkan alhamdulillah.

Syukur menjadi pengikat nikmat yang telah ada dan pemburu nikmat yang belum datang.

 

Kedua, bersyukur dengan hati. Meyakini sepenuhnya seluruh nikmat berasal dari Allah.

Firman Allah di QS An-Nahl 53. Apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka semuanya berasal dari Allah.

Orang yang bersyukur tidak akan sombong atas ilmu, jabatan, kekayaan, ataupun kedudukannya. Ia menyadari semua itu hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pemberi Nikmat.

 

Hakikat syukur mengenali nikmat sebagai karunia Allah, lalu mengarahkan hati untuk mencintai Sang Pemberi Nikmat, bukan hanya menikmati nikmat-Nya.

Ketiga, bersyukur dengan anggota badan. Syukur yang sempurna tampak dalam tindakan nyata.

Kesehatan digunakan untuk salat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, membantu sesama, bekerja mencari nafkah yang halal, dan berbakti kepada orang tua.

Harta digunakan untuk zakat, infak, sedekah, wakaf, dan membantu orang yang membutuhkan.

Ilmu diajarkan bukan disembunyikan.

Allah berfirman: Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur (QS Saba' 13).

Ini menunjukkan syukur tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam amal saleh.

Syukur bukanlah sekadar ucapan dengan lisan, tetapi rida di dalam hati dan menggunakan nikmat untuk menaati Allah.

 

Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan: Barang siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti ia telah membuka jalan bagi hilangnya nikmat tersebut. Dan barang siapa mensyukurinya, berarti ia telah mengikat nikmat itu dengan tali yang kuat.

 

Ada ulama salaf melihat seorang laki-laki yang kehilangan kedua kakinya, kedua tangannya, penglihatannya, dan hidup dalam kemiskinan. Namun lelaki itu terus mengucapkan; Alhamdulillah.

 

Sang ulama bertanya; Nikmat apa yang masih engkau syukuri?

Lelaki itu menjawab; Aku masih diberi hati yang mengenal Allah, lisan yang dapat berzikir kepada-Nya, dan iman yang memenuhi dadaku. Bukankah itu lebih besar daripada seluruh kenikmatan dunia?

(jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
Masjid Agung Junnatul Fuadah Kajian Islam Jombang Ustaz Addin Mustaqim Keutamaan Bersyukur Syukur dalam Islam