Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal Polres Jombang: Kemuliaan di Sisi Allah Bukan karena Harta atau Jabatan

Rojiful Mamduh • Minggu, 12 Juli 2026 | 15:38 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

 

Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (10/7), Imam Masjid Dr H Moeldoko, KH Muhtarom Alhafiz, menjelaskan kemuliaan sejati.

’’Kemuliaan sejati hanyalah dengan takwa,’’ tuturnya.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala di QS Al-Hujurat 13. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

 

Setiap manusia ingin dihormati. Ada yang mengejar jabatan agar dipandang mulia. Ada yang mengumpulkan harta agar disegani. Ada yang membanggakan keturunan, kecantikan, atau ketampanan agar mendapat pujian.

 

Namun ingatlah, akan datang suatu saat ketika kita dilamar oleh malaikat maut untuk dinikahkan dengan kematian. Pada saat itu kita akan diceraikan dari segala sesuatu yang kita cintai. Dari rumah yang megah, kendaraan yang mewah, jabatan yang tinggi, dan harta yang selama ini dibanggakan.

 

Allah Ta’ala berfirman di QS Ali 'Imran 185. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

Juga di QS Al-Jumu'ah 8. Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, maka sesungguhnya ia pasti akan menemui kalian.

 

Ketika jasad telah terbujur di liang lahat dan manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar, tidak ada yang ditanya berapa luas rumahnya, berapa banyak hartanya, atau setinggi apa jabatannya. Yang menjadi ukuran adalah iman, amal saleh, dan ketakwaannya.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.

Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, berdebu pakaiannya, dan tidak dianggap manusia. Namun seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya.

Sahabat Bilal bin Rabah radiyallahu 'anhu bukan orang kaya. Bukan bangsawan Arab. Kulitnya hitam dan dulunya budak. Ketika masuk Islam, dia disiksa di tengah terik matahari padang pasir. Batu besar diletakkan di atas dadanya agar ia meninggalkan agama Allah.

Namun Bilal tidak menyerah. Dari lisannya hanya keluar satu kalimat: Allah Yang Maha Esa... Allah Yang Maha Esa.

 

Karena keteguhan iman dan ketakwaannya, Allah mengangkat derajat Bilal.

Suatu hari Rasulullah bersabda: ’’Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan yang paling engkau harapkan dalam Islam, karena aku mendengar suara langkah kakimu di depanku di surga.’’

 

Kemuliaan itu bukan karena nasabnya, bukan karena hartanya, tetapi karena iman, keikhlasan, dan ketakwaannya.

Sebaliknya, kita juga belajar dari Abu Lahab. Ia paman Rasulullah. Nasabnya sangat mulia karena berasal dari Bani Hasyim dan Quraisy. Namun karena kesombongan dan kekafirannya, Allah mengabadikan kehinaannya dalam Alquran: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia telah binasa (QS Al-Lahab 1).

 

Nasab yang tinggi ternyata tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah Ta’ala.

 

Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu 'anhu berkata: Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.

 

Imam Hasan Al-Bashri berkata: ’’Meskipun suara langkah bagal mereka terdengar keras dan pakaian mereka berkilauan, kehinaan maksiat tetap tampak pada diri mereka. Allah enggan memuliakan orang yang bermaksiat kepada-Nya.’’

 

Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah berkata: ’’Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Allah membuatmu berputus asa, sebab Allah menjamin bagimu apa yang menjadi hak-Nya atasmu, bukan apa yang engkau inginkan untuk dirimu.’’

Artinya, kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari banyaknya dunia yang dimiliki, tetapi dari kedekatannya kepada Allah Ta’ala.

 

Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, seorang ulama besar bernama Abdullah bin Mubarak sedang berhaji. Pada suatu malam beliau bermimpi melihat dua malaikat berbicara. Salah satu malaikat berkata: ’’Tahun ini ratusan ribu orang berhaji, tetapi belum tentu haji mereka diterima.’’

 

Malaikat yang lain bertanya: ’’Lalu siapa yang diterima amalnya?’’

 

Dijawab: ’’Seorang tukang sepatu di Damaskus yang tidak berangkat haji.’’

 

Setelah kembali dari Makkah, Abdullah bin Mubarak mencari orang tersebut. Ternyata ia seorang fakir yang telah menabung bertahun-tahun untuk berhaji. Namun ketika hendak berangkat, ia menemukan tetangganya kelaparan. Akhirnya seluruh biaya hajinya diberikan kepada tetangganya yang membutuhkan.

 

Karena keikhlasan dan ketakwaannya, Allah mengangkat derajatnya melebihi banyak orang yang mampu berhaji.

 

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Boleh jadi pakaian kita sederhana, tetapi Allah mencintai kita. Boleh jadi rumah kita kecil, tetapi doa-doa kita menembus langit.

Boleh jadi nama kita tidak dikenal manusia, tetapi dikenal oleh para malaikat sebagai ahli tahajud, ahli sedekah, ahli Al-Qur'an, dan ahli istighfar.

Boleh jadi kita tidak memiliki jabatan yang tinggi, tetapi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala.

 

Sebaliknya, boleh jadi seseorang terkenal di dunia, disanjung manusia, dan dipuji ke mana-mana, namun tidak memiliki nilai di sisi Allah karena hatinya dipenuhi kesombongan, riya', dan cinta dunia.

Maka jangan iri kepada orang yang kaya. Jangan rendah diri karena miskin. Jangan sombong karena jabatan. Jangan bangga karena keturunan. Jangan tertipu oleh pujian manusia.

Berlombalah menjadi orang yang paling bertakwa.

 

Karena sesungguhnya kemuliaan dunia akan berakhir di pintu kubur, sedangkan kemuliaan takwa akan terus menyertai seorang hamba hingga ke surga.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak dikenal di bumi tetapi dikenal di langit. Tidak terkenal di hadapan manusia tetapi dicintai oleh Allah dan para malaikat-Nya.

Dan semoga langkah kaki kita juga dirindukan surga sebagaimana langkah kaki Bilal bin Rabah radiyallahu 'anhu. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#binrohtal polres jombang #Kultum Jumat #Takwa kepada Allah #Kemuliaan Sejati #kajian islam