Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (7/7), Sekretaris Lembaga Dakwah NU Kecamatan Jombang, Ustad Sandi Ferdy Yulianto, menjelaskan pentingnya beramal untuk akhirat. ’’Islam mengajarkan, kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat menanam amal untuk dipanen di akhirat,’’ tuturnya.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh tertipu oleh gemerlap dunia hingga melupakan kehidupan yang kekal.
Allah Ta’ala berfirman di QS Al-'Ankabut 64; Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.
Ayat ini bukan mengajarkan agar meninggalkan dunia, tetapi mengingatkan agar dunia berada di tangan, bukan di hati. Bekerja, belajar, berdagang, maupun berkeluarga semuanya dapat bernilai ibadah apabila diniatkan mencari rida Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala juga menegaskan tujuan penciptaan manusia di QS Adz-Dzariyat 56. Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.
Ibnu Umar radiyallahu anhu yang meriwayatkan hadis ini kemudian berkata; Apabila engkau berada di waktu sore, jangan menunggu pagi. Apabila berada di waktu pagi, jangan menunggu sore. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.
Imam Al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad mengutip sebuah hadis yang masyhur: ’’Tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah ketika ia disibukkan dengan perkara yang tidak bermanfaat baginya.’’
Nasihat ini mengingatkan, umur modal yang sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, para ulama salaf sangat menjaga setiap detik kehidupannya agar dipenuhi ilmu, zikir, ibadah, dan amal saleh.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Pada suatu hari, seseorang melihat beliau sangat sibuk menyelesaikan berbagai urusan umat. Orang itu berkata, ’’Wahai Amirul Mukminin, beristirahatlah sejenak.’’
Beliau menjawab: ’’Sesungguhnya malam dan siang terus bekerja (mengurangi umurmu), maka bekerjalah (beramal) di dalam keduanya. Jika pekerjaan di siang hari saja belum selesai, maka malam hari lebih sempit lagi bagiku.’’
Syekh Ibnu Atha'illah As-Sakandari dalam Al-Hikam berkata: Betapa banyak umur yang pendek, tetapi penuh keberkahan.
Ukuran keberhasilan hidup bukanlah panjangnya usia, melainkan keberkahan dan amal yang mengisinya. Semoga Allah menjadikan sisa umur kita dipenuhi amal saleh, hati yang ikhlas, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Contoh keberkahan umur adalah kehidupan Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi (631–676 H). Beliau wafat pada usia 45 tahun. Namun, dalam waktu yang singkat itu Allah memberikan keberkahan luar biasa sehingga menghasilnya banyak kitab yang terus dipelajari hingga hari ini. Dikisahkan bahwa beliau setiap hari mempelajari 12 pelajaran.
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto