Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (29/6), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, KH Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan tanda tertipu. ’’Di antara tanda tertipu setan yakni memperbanyak sunah tapi lalai wajib,’’ tuturnya.
Setan tidak pernah menyerah menyesatkan manusia. Pertama, setan berusaha menghalangi agar tidak beriman. Kedua, orang yang beriman dihalangi agar tidak beribadah.
Ketiga, orang yang ibadah digoda agar tertipu. Tampak rajin beribadah, tetapi ternyata salah menempatkan prioritas. Ia mengejar amalan sunah sementara kewajiban terbengkalai.
Padahal Allah Ta’ala berfirman di hadis qudsi: Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.
Ini menjadi kaidah besar; Kewajiban selalu didahulukan daripada sunah.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, Muhasabah Ibadah
Di antara tanda ibadah yang keliru, salat Id tetapi meninggalkan salat Duhur. Salat Id hukumnya sunah, sedangkan salat lima waktu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.
Gemar bersedekah sunah tetapi tidak menunaikan zakat yang wajib. Banyak orang ringan mengeluarkan uang untuk sedekah, tetapi berat menghitung zakat yang wajib ditunaikan. Padahal zakat salah satu rukun Islam.
Rajin tahajud tetapi salat Subuh kesiangan. Sungguh ironis bila seseorang bangun pukul tiga malam untuk tahajud, tetapi tertidur kembali hingga matahari terbit sehingga kehilangan salat Subuh. Itu bukan keberhasilan ibadah, melainkan kemenangan setan dalam mengacaukan prioritas.
Polisi sibuk salawatan tetapi lalai menjalankan tugas menjaga keamanan. Bersalawat amal sunah yang sangat dianjurkan. Namun bagi seorang polisi, menjalankan amanah menjaga keamanan masyarakat kewajiban profesinya.
Apabila ia meninggalkan tugas demi memperbanyak amalan sunah tanpa alasan syar'i, maka ia telah mendahulukan yang sunah atas yang wajib.
Gemar mentraktir teman tetapi menelantarkan nafkah keluarga. Mentraktir teman termasuk sedekah. Namun memberi nafkah kepada istri dan anak kewajiban.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Cukuplah seseorang dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.
Dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu yang paling besar pahalanya.
Suatu ketika, seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah dengan rambut acak-acakan. Ia berkata, ’’Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku salat apa yang diwajibkan Allah kepadaku?’’
Nabi menjawab, ’’Salat lima waktu, kecuali jika engkau ingin mengerjakan salat sunah.’’
Ia bertanya lagi, ’’Puasa apa yang diwajibkan Allah kepadaku?’’ Nabi menjawab, ’’Puasa Ramadan, kecuali jika engkau ingin menambah dengan puasa sunah.’’
Lalu Nabi menjelaskan tentang zakat. Setelah itu orang tersebut berkata: Demi Allah, aku tidak akan menambah dari kewajiban-kewajiban itu dan tidak pula menguranginya.
Maka Rasulullah bersabda: Dia akan masuk surga jika benar melaksanakan apa yang dikatakannya.
Menunaikan seluruh kewajiban dan menjauhi yang haram sudah cukup menjadi sebab keselamatan. Amalan sunah berfungsi menyempurnakan kekurangan, menambah pahala, dan meninggikan derajat seseorang di surga.
Karena itu, jangan sampai terbalik: Rajin tahajud tetapi meninggalkan Subuh, gemar sedekah tetapi tidak membayar zakat, atau tekun berzikir tetapi melalaikan amanah yang menjadi kewajiban. Yang paling dicintai Allah adalah mendahulukan kewajiban, kemudian menyempurnakannya dengan amalan-amalan sunah. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto