Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (25/6),
Pengasuh Pondok Pesantren Halimiyah Tambakberas, KH Lukman Hakim, mengajak muhasabah (introspeksi diri) perihal ibadah. ’’Di awal tahun hijriah ini mari kita muhasabah, agar tambah hari ibadah kita semakin baik,’’ tuturnya.
Tujuan manusia diciptakan tidak lain hanya untuk ibadah. Sebagaimana ditegaskan di QS Adz-Dzariyat 56; Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Semua aktivitas dunia—belajar, bekerja, berdagang, berumah tangga, memimpin, bahkan beristirahat—dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah dan sesuai tuntunan syariat.
Karena tujuan hidup ibadah, maka kehidupan di dunia bukanlah tempat bersenang-senang tanpa batas. Melainkan tempat ujian sebelum mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Allah.
Sebagaimana disebutkan di QS Al-Mulk 2; Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: Umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa digunakan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta ilmunya, apa yang telah diamalkan.
Pertama, umur untuk apa dihabiskan? Allah berfirman di QS Fathir 37. Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup bagi orang yang mau mengambil pelajaran, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan?
Rasulullah bersabda: Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
Khalifah yang adil, Umar bin Abdul Aziz, ketika menjelang wafat berkata kepada keluarganya bahwa ia tidak meninggalkan dinar maupun dirham, tetapi meninggalkan ketakwaan. Selama hidupnya beliau menggunakan setiap waktunya untuk mengurus umat, menegakkan keadilan, dan beribadah kepada Allah. Umurnya singkat, namun keberkahannya dikenang sepanjang zaman.
Kedua, tentang masa muda untuk apa digunakan? Karena masa muda penuh tenaga, peluang, dan godaan.
Rasulullah bersabda: Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, ternasuk masa mudamu sebelum datang masa tuamu.
Alkisah, Imam An-Nawawi menghabiskan masa mudanya untuk menuntut ilmu. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Bahkan ketika berjalan beliau tetap mengulang hafalan. Berkat kesungguhannya, karya-karyanya seperti Riyadus Salihin terus memberi manfaat hingga hari ini.
Ketiga, harta dari mana dan untuk apa?
Harta halal yang digunakan di jalan Allah menjadi cahaya. Sebaliknya, harta haram akan menjadi penyesalan pada Hari Kiamat.
Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memakan makanan yang ternyata berasal dari sumber yang meragukan. Setelah mengetahui hal itu, beliau segera memasukkan jarinya ke mulut hingga memuntahkan makanan tersebut. Dia khawatir makanan itu menjadi sebab kebinasaan.
Keempat, tentang ilmu, sudahkah diamalkan?
Ilmu yang bermanfaat melahirkan amal, akhlak, dan ketakwaan.
’’Kita harus sering musahabah empat hal itu agar setiap hari menjadi lebih baik,’’ terangnya.
Rasulullah bersabda; Barang siapa hari ini lebih baik daripada kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk daripada kemarin, maka ia termasuk orang yang dilaknat alias dijauhkan dari rahmat Allah. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto