Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (23/6), Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jombang, KH Agung Bahroni, menjelaskan keutmaan hari Asyura (10 Muharram). ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Puasa hari Asyura menghapus dosa setahun,’’ tuturnya.
Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata, ’’Ini hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir'aun.’’
Maka Nabi bersabda: Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
Rasulullah bersabda: Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.
Menjelang wafat, Rasulullah bersabda: Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.
Karena itu para ulama menganjurkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, atau 10 dan 11 Muharram.
Amalan yang dianjurkan pada hari Asyura; Berpuasa sunah. Memperbanyak zikir dan istigfar. Membaca Alquran. Bersedekah kepada fakir miskin. Menyambung silaturahmi.
Membahagiakan keluarga dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.
Nabi bersabda; Siapa yang melapangkan nafkah keluarganya pada hari Asyura, Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.
Pada suatu hari Asyura, ada orang miskin yang minta 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham kepada seorang qadi atau hakim. Namun oleh si qadi diminta kembali siang hari. Saat siang hari, dia diminta kembali sore hari. Namun saat sore hari, dia tetap tidak diberi bahkan malah dicaci.
Si fakir lantas pergi dengan menangis. Dia sedih membayangkan anak-anaknya yang kelaparan di rumah.
Merasa sedih dan tidak berdaya lagi, ia pun berdoa kepada Allah. ’’Ya Allah! Mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!’’ pintanya. Maka ia pun pulang dengan langkah gontai.
Di tengah jalan ia bertemu seorang Nasrani bernama Saiduk. Akhirnya, ia menceritakan kisahnya dan membuatnya iba. ’’Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?’’ tanya Saiduk. ’’10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,’’ jawab si miskin.
’’Kalau begitu saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta,’’ jawab Saiduk.
Hal ini membuat si miskin bahagia. Ia pulang dengan disambut gembira anak-anaknya. ’’Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,’’ ungkap anak-anaknya.
Malam harinya tuan Qadi bermimpi. Ia melihat dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak. ’’Ini untuk siapa?’’ tanya Qadi.
Kemudian ada suara tanpa rupa menjawab; ’’Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhan orang miskin tadi. Tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk.’’
Esoknya, si Qadi menuju rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam.
Saiduk pun menceritakan orang miskin yang bertemu dengannya. ’’Apa yang kau berikan kepada orang fakir tersebut, saya ganti 100.000 dirham,’’ kata Qadi. Namun tawaran itu ditolak.
’’Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan. Sekarang saksikan saya masuk Islam,’’ ucap Saiduk. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto