Saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (19/6), Pengasuh PP Al Hikmah Nurul Quran, Bendungrejo, Jogoroto, Ustad Muhdi Surur Alhafiz, menjelaskan bahaya meremehkan dosa kecil. ’’Dosa kecil bisa menjadi besar karena empat hal,’’ tuturnya.
Pertana, dosa kecil menjadi besar karena berniat mengulanginya.
Orang yang jatuh dalam kesalahan lalu menyesal masih memiliki harapan besar mendapatkan ampunan Allah Ta’ala. Namun berbeda dengan orang yang sudah merencanakan untuk mengulangi maksiat tersebut.
Allah Ta’ala berfirman: Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui (QS Ali Imran 135).
Ayat ini memuji orang beriman yang tidak mengulangi dalam dosa.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus, dan tidak ada dosa besar apabila diikuti istighfar.
Alkisah, ada ahli ibadah dari kalangan Bani Israil pernah tergelincir memandang wanita yang bukan mahram. Ia langsung menangis dan berkata: ’’Aku takut bukan karena pandangan pertama, tetapi karena hatiku ingin mengulanginya.’’
Karena penyesalan yang mendalam, ia memperbanyak tobat hingga menjadi orang saleh yang terkenal pada masanya.
Kedua, dosa kecil menjadi besar karena dilakukan terus-menerus. Rasulullah bersabda: Jauhilah dosa-dosa yang dianggap remeh. Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa yang dianggap remeh seperti suatu kaum yang singgah di sebuah lembah. Lalu masing-masing membawa sebatang kayu hingga terkumpul banyak dan mampu menyalakan api.
Dosa kecil yang terus dikumpulkan akan menghancurkan pelakunya sebagaimana ranting-ranting kecil yang akhirnya menjadi api besar.
Allah Ta’ala berfirman: Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka (QS Al-Muthaffifin 14).
Noda dosa yang terus bertambah akan menghitamkan hati sehingga semakin berani melakukan dosa. Dosa di atas dosa adalah hukuman bagi dosa sebelumnya.
Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang akan menimpanya, sedangkan orang pendosa melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya.
Ketiga, dosa kecil menjadi besar karena dilakukan dengan senang dan bangga. Semakin besar rasa bangga terhadap maksiat, semakin besar pula dosanya. Sebaliknya, semakin besar rasa takut dan penyesalan, semakin dekat seseorang kepada ampunan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman di QS Fathir 8; Mereka tidak dapat membedakan antara orang yang perbuatan buruknya dihias oleh setan sehingga terlihat baik.
Ayat ini menjelaskan bahaya ketika seseorang menikmati dan membanggakan kemaksiatan.
Rasulullah bersabda: Penyesalan adalah tobat.
Sebaliknya, merasa bangga terhadap dosa merupakan lawan dari penyesalan.
Alkisah, ada ahli ibadah yang menangis sepanjang malam setelah melakukan satu kesalahan kecil. Ketika ditanya mengapa sedih, ia menjawab: ’’Aku tidak takut pada dosanya, tetapi aku takut Allah melihat hatiku merasa nyaman dengan dosa itu.’’
Para salaf lebih takut kepada keadaan hati daripada besarnya dosa itu sendiri.
Keempat, dosa kecil menjadi besar karena dilakukan terang-terangan. Rasulullah bersabda: Seluruh umatku akan mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa (mujahir).
Yang dimaksud mujahir, orang yang melakukan maksiat lalu menceritakannya, memamerkannya, atau menampakkannya kepada orang lain.
Ia melakukan dua kejahatan sekaligus: Bermaksiat kepada Allah. Serta mengajak orang lain meremehkan maksiat tersebut. Bahkan terkadang menjadi sebab orang lain ikut menirunya.
Allah berfirman di QS An-Nur 19; Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya perbuatan keji di tengah orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto