Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Keutamaan Hari Asyura

Rojiful Mamduh • Jumat, 19 Juni 2026 | 08:18 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

 

 

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (17/6), Pengasuh PP Al-Fathimiyah Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdulloh Rif'an Nasir LC, menjelaskan keutamaan hari Asyura (10 Muharram). ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Puasa hari Asyura bisa menghapus dosa setahun,’’ tuturnya.

Rasulullah datang ke Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata, ’’Ini hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir'aun.’’ Maka Rasulullah bersabda: Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.

Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Nabi juga bersabda; Barang siapa melapangkan nafkah keluarganya pada hari Asyura, Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.

Umat Islam dianjurkan berbagi kebahagiaan pada hari Asyura.

Pada suatu hari Asyura, ada orang miskin yang minta 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham kepada seorang qadi atau hakim. Namun oleh si qadi diminta kembali siang hari. Saat siang hari, dia diminta kembali sore hari. Namun saat sore hari, dia tetap tidak diberi bahkan malah dicaci.

Si fakir lantas pergi dengan menangis. Dia sedih membayangkan anak-anaknya yang kelaparan di rumah.

Merasa sedih dan tidak berdaya lagi, ia pun berdoa kepada Allah. ’’Ya Allah! Mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!’’ pintanya. Maka ia pun pulang dengan langkah gontai.

Di tengah jalan ia bertemu seorang Nasrani bernama Saiduk. ’’Ada apa, Pak. Kenapa menangis?’’

 Akhirnya, ia menceritakan kisahnya kepada Saiduk dan membuatnya iba. ’’Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?’’ tanya Saiduk. ’’10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,’’ jawab si miskin.

’’Kalau begitu saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta,’’ jawab Saiduk. Tidak hanya itu, bahkan Saiduk berjanji untuk selalu memberi bantuan.

 Hal ini membuat si miskin bahagia. Ia pun pulang dengan disambut gembira anak-anaknya. ’’Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,’’ ungkap anak-anaknya.

Malam harinya tuan Qadi bermimpi. Ia melihat dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak. ’’Ini untuk siapa?’’ tanya Qadi.

Kemudian ada suara tanpa rupa menjawab; ’’Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhan orang miskin tadi. Tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk.’’

Esoknya, si Qadi bergegas menuju ke rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam. ’’Wahai Saiduk, amal kebajikan apa yang telah kamu lakukan semalam?’’ tanya Qadi.

 Saiduk pun menceritakan orang miskin yang bertemu dengannya. ’’Apa yang kau berikan kepada orang fakir tersebut, saya ganti 100.000 dirham,’’ kata Qadi. Namun tawaran itu ditolak.

’’Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan. Sekarang saksikan; Ashadu an la ilaha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,’’ ucap Saiduk yang akhirnya ditakdirkan Allah menjadi orang yang beruntung. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Puasa Asyura #10 Muharram #Keutamaan Asyura #Amalan Islam #hari Asyura