Saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (17/6), Ketua PCNU Jombang sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq, menjelaskan pentingnya mengisi tahun baru hijriah dengan memperbaiki diri.
’’Alhamdulillah kita sudah masuk tahun baru 1 Muharram 1448 Hijriah. Setiap tahun baru berarti umur kita semakin berkurang, sehingga harus semakin memperbaiki diri,’’ tuturnya.
Agar sewaktu-waktu menghadap Allah Ta’ala, kita dalam kondisi berbuat baik alias husnul khatimah.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Setiap anak Adam (manusia) pernah melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat.
’’Tahun baru Islam diawali dari momentum hijrah nabi dari Makkah ke Madinah, sebagai pengingat agar kita hijrah dari maksiat menuju taat,’’ terangnya.
Gus Fahmi lalu cerita tokoh sufi Fudail bin Iyad. Dulunya dia perampok yang ditakuti. ’’Saking jagoannya, dia ini kalau merampok tidak bawa teman, tapi sendirian,’’ ucapnya.
Orang tua biasa menakuti anaknya dengan mengatakan; ’’Jangan keluar rumah, nanti ada Fudail bin Iyad.’’
Hampir setiap malam Fudail mendatangi rumah-rumah yang ada di negerinya untuk merampok. Hingga suatu malam dia kembali melaksanakan aksinya. Saat hendak beraksi, dia mendengar si pemilik rumah membaca Alquran Surat Alhadid ayat 16.
’’Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?’’
Mendengar itu, tak terasa air matanya berlinang, hingga akhirnya dia pun tersungkur jatuh. Seketika badannya yang selama ini kokoh, menjadi rapuh karena mendengar ayat tadi. Dia pun berkata dalam hatinya untuk menjawab pertanyaan Allah yang terdapat dalam ayat di atas, ’’Wahai Rabb-ku, telah tiba saatnya.’’
Akhirnya, ia pergi menjauh, lalu ia bermalam pada reruntuhan bangunan. Ternyata di samping bangunan itu ada orang-orang yang mau lewat. Sebagian diantara orang-orang itu berkata, ’’Ayo kita berangkat’’. Sebagian lagi bilang, ’’Jangan dulu!! Nanti Subuh kita berangkat, karena Fudail sekarang akan menghadang kita di jalan!!!’’
Mendengar perbincangan itu Fudail akhirnya berpikir dan berkata dalam hatinya. ’’Aku berbuat maksiat di malam hari, sementara itu kaum muslimin di tempat ini takut kepadaku. Ya Allah, sungguh kini aku bertobat kepada-Mu dan aku jadikan tobatku berupa hidup di Baitullah.’’
Setelah kejadian itu, dia pun melalui hari-harinya dengan ketaatan kepada Allah sampai ia dikenal dengan abidul haromain (ahli ibadah dua tanah suci, Makkah dan Madinah).
Maha suci Allah yang telah membolak-balikkan hati, dan menganugerahkan kepada hamba-Nya hati yang lembut.
Allah Ta’ala mengubah hati sekeras batu menjadi selembut air. Dia bertobat dengan sejujurnya di hadapan Allah. Sampai Allah Ta’ala mewariskan kepadanya hati amat lembut dan mudah mengingat Allah Ta’ala. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto