Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Refleksi Akhir Tahun Menuju Muhsin

Rojiful Mamduh • Kamis, 11 Juni 2026 | 07:01 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

 

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (10/6), Katib Syuriyah MWCNU Jogoroto, sekaligus Wakil Ketua MUI Jogoroto, KH M Sholahuddin Kariim, mengajak refleksi di akhir tahun hijriah. Selasa (16/6) nanti kita akan memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah.

 

’’Akhir tahun momentum muhasabah (introspeksi diri), menghitung amal yang telah dilakukan, menyesali dosa yang pernah diperbuat, serta menyusun tekad untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik pada tahun berikutnya,’’ tuturnya.

 

Allah Ta’ala mencintai hamba-hamba-Nya yang senantiasa memperbaiki diri dan berusaha mencapai derajat ihsan. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ihsan itu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.

 

Umar bin Khattab radiyallahu anhu sering menangis ketika membaca ayat-ayat ancaman. Padahal dia adalah khalifah yang dijamin masuk surga. Namun rasa takutnya kepada Allah membuatnya selalu bermuhasabah.

Umar berkata: Seandainya seekor keledai terperosok di Irak, aku khawatir Allah akan menanyakan mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya.

 

’’Orang muhsin selalu merasa amalnya belum cukup,’’ terangnya. Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Baqarah 195; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

 

Hasan al-Bashri sering menangis ketika malam hari. Ketika ditanya penyebabnya, beliau menjawab: ’’Aku khawatir Allah melihatku lalu berfirman: Pergilah, Aku tidak menerima amalmu.’’

Inilah sifat orang-orang muhsin, semakin banyak amal semakin besar rasa takutnya kepada Allah Ta’ala.

 

’’Akhir tahun mengingatkan bahwa umur semakin berkurang,’’ ucapnya.

Seorang tabiin Rabi' bin Khutsaim menggali liang kubur kecil di rumahnya. Ketika hatinya mulai lalai, beliau masuk ke liang tersebut dan membaca: Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia (QS Al-Mu'minun 99).

Lalu beliau keluar dan berkata: ’’Sekarang engkau sudah dikembalikan, maka beramallah.’’

Cara itu dia lakukan untuk mengingat kematian dan memanfaatkan waktu.

 

’’Akhir tahun saat yang tepat untuk bertobat,’’ tegasnya. Rasulullah bersabda: Semua anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah yang bertobat.

Fudhail bin Iyadh dulunya seorang perampok. Suatu malam dia mendengar seseorang membaca QS Al-Hadid 16; Belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah?

Beliau langsung menangis dan bertobat hingga menjadi salah satu wali dan ulama besar umat Islam.

 

’’Usahakan mengakhiri dan memulai tahun baru dengan amal saleh,’’ sarannya.

Ibn Rajab al-Hanbali berkata: Barang siapa membuka tahun dan menutupnya dengan tobat serta ketaatan, maka diharapkan seluruh waktunya diberkahi.

Abdullah bin Mubarak selalu menyusun target amal setiap tahun. Beliau membagi waktunya untuk ilmu, ibadah, jihad, dan membantu kaum muslimin.

Keberhasilan beliau menjadi ulama besar tidak lepas dari kebiasaan mengevaluasi dan memperbaiki diri secara terus-menerus.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, maka ia telah menutup tahun yang lalu dan membuka tahun yang baru dengan puasa. Allah menjadikannya sebagai kafarah (penghapus dosa) selama lima puluh tahun. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#1 Muharram 1448 H #Muhasabah Diri #KH M Sholahuddin Karim #MUI Jogoroto #tahun baru islam