Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tafsir Aktual Al-Fatihah (2): Rahasia Urutan Alquran dari Setoran Terakhir Nabi kepada Jibril

Rojiful Mamduh • Sabtu, 6 Juni 2026 | 06:08 WIB
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

 

 

Dasar kedua dari urutan penulisan mushaf adalah al-‘urdlah, setoran hafalan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam kepada gurunya, yaitu malikat Jibril alaihissalam. Sekurangnya setiap bulan Ramadan Jibril datang mengecek Alquran yang pernah diturunkan ke diri Rasulullah.

Rasulullah SAW membaca semuanya di hadapan Jibril  hingga setoran terakhir menjelang wafat. Urutannya ya seperti itu, yakni diawali surah al-Fatihah hingga berakhir surah al-Nas. Tampilan bacaan Rasulullah terakhir di hadapan Jibril tersebut, dalam kitab ‘ulum Alquran diistilahkan dengan al-‘Urdlah al-Akhirah.

Meski begitu, ada sahabat yang mendokumenkan, menulis Alquran menggunakan urutan turunnya. Namanya dasar  Tartib al-Nuzul. Salah satunya sahabat Ali ibn Abi Thalib Karram Allah Wajhah (KAW).

Meski begitu, saat penulisan Alquran berlangsung, mereka sepakat memakai dasar al-muwadhabah wa al-‘urdlah dan tidak menggunakan dasar tartib al-Nuzul. Ali ibn Abi Thalib KAW yang hadir dan mengetahui hal itu rela dan sepakat.

Karram Allah Wajhah (KAW) artinya Allah memuliakan wajahnya. Ini pujian sekaligus doa. Ali ibn Abi Thalib sikapnya sangat religius. Sejak kecil tidak pernah datang ke tempat penyembahan berhala, menghadapkan wajahnya ke patung sesembahan wong kafir Makkah zaman jahiliah dulu.

Kedua, sejak menjadi sahabat yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak dan mengerti adab dan etika berprilaku seperti diajarkan Rasululah, Ali tidak pernah memandangi penis, zakarnya sendiri, kemaluan sendiri apalagi kemaluan istrinya. Hal itu semata-mata berlaku sopan dan malu kepada Allah Ta’ala.

Ali ibn Abi Thalib juga menghindari melihat hal-hal yang kotor dan menjijikkan, apalagi yang haram. Untuk itu, Allah Ta’ala menganugerahinya dengan akal yang tajam dan wawasan yang brilian. Cerdas dan sangat pintar, hingga digelari oleh Nabi sebagai Bab al-ilm, pintu ilmu, sementara Nabi sebagai gudangnya.

 

Gak seperti kita ini, rasanya sehari saja tidak pernah telat memandangi penis sendiri, bahkan mengajaknya berdialog dalam senyap. Maka pantesan, hafalan kita lemah dan akal kita tak cerah. Wis IQ-nya paspasan, males belajar, malas muraja’ah, sueneng uyel-uyel ’’konok-an’’.

Dari sifat turunnya yang acak dan tidak berurutan, lalu diurutkan atas instruksi Rasulullah sendiri, ternyata menimbulkan ilmu baru yang khas Alquran dan tidak dimiliki oleh disiplin lain. Itulah ilmu munasabah, relevannsi, baik antar ayat (al-munasabah bain al-ayat) maupun antar surah (al-munasbah bain al-suwar).

 

Ilmu ini sangat membantu penafsiran Alquran, mendampingi sabab nuzul atau latar belakang historis. Sebab, tidak semua wahyu turun karena ada latar balakang sejarahnya atau Wahyu Nuzuly. Yang terbanyak justru Wahyu Ibtida’iy, yaitu wahyu yang turun begitu saja, tanpa latar belakang. Wahyu ini bersifat doktriner, pengajaran. Allah Ta’ala memang mau mengajari manusia.

Untuk itu, ulama melarang membaca Alquran dengan membalik urutannya. Ya, karena merusak munasabahnya. Jangankan antar ayat yang dibalik, dibaca nyungsang, antar surahnya saja kacau. Misalnya, membaca surah al-Nas lebih dulu, lalu al-Falaq, al-Ikhlash dan seterusnya. Kalau hafalan lainnya, silahkan. Misalnya nadham alfiyah ibn Malik dan lain-lain. (bersambung, in sya’ Allah).

 

Editor : Anggi Fridianto
#sejarah alquran #tafsir al fatihah #ulumul quran #ilmu munasabah #ali bin abi thalib