Saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (5/6), pengurus MWCNU Kecamatan Ngoro, H Ahmad Rifai Kahfi, menjelaskan akhlak calon penghuni surga. ’’Ada tiga akhlak calon penghuni surga,’’ tuturnya.
Pertama, berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Allah Ta’ala berfirman di QS Fussilat 34. Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Maukah aku beritahukan kepada kalian akhlak terbaik penduduk dunia dan akhirat? Yaitu engkau menyambung orang yang memutusmu, memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu.
Abdullah bin Abbas berkata: Balaslah orang yang bermaksiat kepada Allah terhadapmu dengan ketaatan kepada Allah dalam menyikapinya.
Ketika berdakwah ke Thaif, Nabi dilempari batu hingga berdarah. Malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif. Namun Rasulullah tidak membalas keburukan mereka. Nabi malah berdoa: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka tidak mengetahui.
Dari keturunan penduduk Thaif kemudian lahir banyak kaum muslimin yang saleh. Inilah buah dari ihsan kepada orang yang berbuat buruk.
Hasan al-Basri berkata: Kemuliaan seorang mukmin terlihat ketika ia mampu berbuat baik kepada orang yang menyakitinya.
Akhlak seperti ini sangat berat bagi hawa nafsu, tetapi sangat dicintai Allah Ta’ala.
Kedua, memaafkan orang yang menzalimi. Allah Ta’ala berfirman: Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah (QS Asy-Syura 40).
Rasulullah bersabda: Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.
Ketika muncul fitnah terhadap Sayyidah Aisyah radiyallahu anha, salah seorang yang ikut menyebarkan Mistah bin Utsatsah. Padahal Mistah selama ini mendapat bantuan nafkah dari Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Karena marah, Abu Bakar bersumpah tidak akan memberi bantuan lagi. Lalu turun QS An-Nur ayat 22; Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?
Setelah ayat itu turun, Abu Bakar berkata: Demi Allah, aku ingin Allah mengampuniku. Abu Bakar kembali memberikan bantuan kepada Mistah.
Muhammad bin Sirin berkata: Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih cepat memasukkan seseorang ke dalam surga selain hati yang bersih dari dendam.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani pernah disakiti oleh sebagian orang yang iri kepadanya. Namun beliau justru mendoakan mereka dan berkata: ’’Jika mereka benar, semoga Allah mengampuniku. Jika mereka salah, semoga Allah mengampuni mereka.’’
Sikap ini menunjukkan keluhuran jiwa para wali Allah.
Ketiga, memberi kepada orang yang tidak mau memberi. Ahli surga tetap dermawan meskipun berhadapan dengan orang yang pelit atau tidak pernah membantu dirinya.
Allah Ta’ala berfirman QS Saba' 39; Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.
Sufyan ats-Tsauri berkata: Jika engkau ingin mengalahkan setan, maka balaslah keburukan dengan kebaikan.
Hasan bin Ali pernah dicaci oleh seseorang dari Syam. Tapi justru menawarkan makanan, tempat tinggal, dan bantuan. Orang itu menangis lalu berkata: ’’Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia memberikan risalah-Nya.’’
Kebencian berubah menjadi kecintaan karena akhlak yang mulia. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto