Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (29/5), Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Ustad M Hafidz Alhafiz, menjelaskan hikmah berkurban.
’’Kurban ibadah agung yang mengandung penghambaan dan ketundukan kepada Allah Ta’ala yang hanya dilakukan oleh para kekasih Allah Ta’ala,’’ tuturnya
Allah Ta’ala berfirman: Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (QS Al-Kautsar 2).
Ayat ini menunjukkan, salat dan menyembelih kurban merupakan bentuk syukur. Sehingga pasti diganti yang lebih baik oleh Allah Ta’ala. Setelah Nabi Ibrahim lulus ujian menyembeluh Ismail dan diganti kambing, Allah kemudian memberi Ibrahim putra kedua yakni Nabi Ishak.
Nabi cukup lama berdoa; Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang saleh (QS Ash-Shaffat 100).
Nabi Ibrahim baru memperoleh putra ketika usia beliau sangat lanjut. Namun lamanya penantian tidak membuat beliau kecewa kepada Allah. Justru semakin mendekat kepada-Nya. Dari sini para ulama mengambil pelajaran, keterlambatan terkabulnya doa bukan berarti Allah menolak doa tersebut, tetapi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik bagi hamba-Nya.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Doa seorang muslim akan selalu dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa.
Ketika Nabi Ibrahim telah larut dalam kebahagiaan bersama keluarganya, Allah memberikan ujian besar: Perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail.
Perintah itu bukan karena Allah ingin menyiksa Nabi Ibrahim, melainkan untuk menguji kadar cintanya kepada Allah. Ternyata Nabi Ibrahim lebih mencintai Allah daripada apa pun yang beliau miliki.
Kurban mengajarkan bahwa cinta kepada keluarga, harta, jabatan, dan dunia tidak boleh melebihi cinta kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman: Katakanlah: jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah keputusan Allah (QS At-Taubah 24).
Nabi Ibrahim dan Ismail mengajarkan pentingnya kesabaran. Semua persoalan hidup membutuhkan kesabaran. Dengan sabar, hati menjadi kuat dan jalan keluar akan dibukakan Allah Ta’ala.
Allah berfirman: Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar QS Al-Baqarah 153).
Sayidina Ali karamallahu wajhah berkata: Kesabaran dalam keimanan seperti kedudukan kepala bagi tubuh. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar.
Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah mengutip syair indah tentang sabar: Bila semua jalan telah buntu, maka sabar merupakan jalan penentu. Seberat apa pun jangan putus asa, dengan sabar berarti engkau menanti jalan keluar. Orang sabar meraih kemenangan, itu sangat patut.
Kurban juga mengajarkan keikhlasan dan kedekatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menegaskan: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ketakwaan kalian.
Maka hakikat kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego, kesombongan, cinta dunia, dan hawa nafsu yang menjauhkan diri dari Allah Ta’ala.
Ada seorang salafus saleh yang ketika berkurban membeli hewan terbaik meskipun dirinya hidup sederhana. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: ’’Aku ingin memberikan yang terbaik untuk Allah sebelum Allah memanggilku.’’
Sikap seperti inilah yang menjadikan ibadah bernilai besar di sisi Allah Ta’ala. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto