Saat khotbah di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (22/5), pengasuh Pondok Pesantren Fattahul Muhibbin, Dusun Babatan, Desa Sumberjo, Wonosalam, H Basuki, menjelaskan keutamaan hari Arafah, 9 Dzulhijjah, yang jatuh Selasa (26/5). ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya,’’ tuturnya.
Alkisah, ada seorang salaf yang sangat menjaga puasa Arafah meskipun dalam perjalanan. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, ’’Ini hari keuntungan besar, aku tidak ingin kehilangan kesempatan diampuni Allah Ta’ala.’’
Ini menunjukkan betapa para ulama terdahulu sangat memuliakan hari Arafah.
Pada hari Arafah, Allah Ta’ala banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka. Rasulullah bersabda: Tidak ada hari ketika Allah paling banyak membebaskan hamba dari neraka melebihi hari Arafah.
Pada hari itu, Allah membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat karena kesungguhan mereka dalam beribadah, berdoa, dan bertobat.
Sahabat Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah melihat Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menangis pada hari Arafah. Ketika ditanya mengapa ia menangis, Sufyan menjawab, ’’Orang yang paling buruk pada hari ini adalah orang yang mengira Allah tidak akan mengampuninya.’’
Hari Arafah momentum untuk memperbesar harapan dan berprasangka baik kepada Ta’ala.
Malamnya adalah malam Idul Adha. Ini juga termasuk malam yang penuh keberkahan dan dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Rasulullah bersabda: Ada lima malam yang doa di dalamnya tidak akan tertolak.
Malam Jumat. Malam pertama bulan Rajab. Malam nisfu Syakban. Malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.
Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, doa sangat dianjurkan pada malam Idul Fitri dan Idul Adha karena termasuk waktu yang penuh keberkahan. Banyak ulama salaf menghidupkan malam Id dengan salat, zikir, dan doa, berharap mendapatkan rahmat Allah Ta’ala.
Nabi bersabda; Barang siapa menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) karena mengharap rida Allah, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika banyak hati mati.
Cara menghidupkan minimal dengan salat Isya berjamaah dan Subuh berjamaah. Syukur ditambah salat malam dan zikir.
Paginya, saat Idul Adha, kita dianjurkan menyembelih hewan kurban. Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Kautsar 1-2. esungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
Rasulullah bersabda: Tidak ada amalan anak Adam pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah) yang lebih dicintai Allah Ta;ala daripada mengalirkan darah kurban. Pada setiap helai bulunya berpahala satu kebaikan.
Alkisah, Abdullah bin Umar radiyallahu anhu selalu memilih hewan kurban terbaik. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, kurban persembahan untuk Allah, sehingga harus memilih yang paling baik.
Orang yang mampu tapi tidak kurban maka tercela. Rasulullah bersabda: Barang siapa memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berkurban, maka jangan mendekati tempat salat kami.
Imam Abu Hanifah bahkan berpendapat, kurban bagi orang mampu hukumnya wajib. Sedangkan mayoritas ulama menyatakan hukumnya sunah muakkadah (sangat dianjurkan).
Momentum Idul Adha hendaknya dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala melalui puasa, doa, zikir, dan ibadah kurban. Dengan memuliakan hari Arafah dan Idul Adha, semoga kita termasuk hamba yang mendapatkan ampunan, rahmat, serta keselamatan dari api neraka. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto