Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijjah

Rojiful Mamduh • Minggu, 24 Mei 2026 | 05:56 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

 

Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (22/5), Ustad Hasanudin Sambong, menjelaskan keutamaan 10 hari awal Dzulhijjah.

’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada 10 awal Dzulhijjah. Satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan salat malam setara dengan salat pada malam lailatul qadar,’’ tuturnya.

 

Terutama puasa Tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Rasulullah bersabda: Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun, yakni setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sedangkan puasa Tarwiyah menghapus dosa setahun.

 

Saking mulianya sampai dijadikan sumpah oleh  Allah Ta’ala di Surat Al-Fajr 1-2; Demi fajar, dan malam yang sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

 

Sa'id bin Jubair apabila memasuki sepuluh hari awal Dzulhijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah hingga hampir tidak mampu lagi menambah amal.

Beliau memperbanyak puasa, zikir, qiyamul lail, dan membaca Alqurn. Ini menunjukkan para ulama salaf sangat memuliakan hari-hari tersebut.

 

Alkisah, Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf punya teman yang selalu puasa pada 10 awal Dzulhijjah. Temannya ini kemudian wafat ti tempat gersang. Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan.

Dia kaget karena saat kembali jenazah temannya sudah dikerumuni banyak orang. Juga telah dibungkus kafan hijau dengan tulisan: ’’Inilah balasan orang yang mengutamakan rida Allah ketimbang rida dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.’’

 

Setelah menguburnya, Abu Yusuf mimpi melihat sahabatnya menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda itu ada empat orang.

 

’’Siapa mereka?’’ Tanya Abu Yusuf. ’’Pemuda tampan itu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Empat dibelakangnya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Mereka ingin meziarahiku.’’

Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini? ’’Sebab aku memprioritaskan rida Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,’’ jawab sahabatnya. Sejak itu ia selalu puasa 1-9 Dzulhijjah.

 

Pada 10 awal Dzulhijjah juga ada anjuran berkurban. Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Kautsar 1-3. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus.

Kurban merupakan ibadah agung sebagai bentuk syukur kepada Allah. Rasulullah bersabda:

Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.

 

 

Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga simbol menyembelih sifat buruk dalam diri manusia. Seperti kesombongan, kerakusan, egoisme, kemarahan dan cinta dunia berlebihan.

 

Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Hajj 37. Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.

Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan. Inilah indahnya Islam: ibadah kepada Allah sekaligus berbagi kebahagiaan kepada sesama.

 

Rasulullah bersabda; Orang yang berkurban akan mendapatkan pahala dari tiap bulu hewan kurbannya. Untuk tiap bulu akan dicatat satu kebaikan. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#10 hari Dzulhijjah #puasa Tarwiyah #keutamaan kurban #Masjid Annur Jombang #puasa arafah