Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (21/5), Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Jombang, H Moch Wildan Habibie, menjelaskan empat ajaran mulia dari empat kitab samawi.
’’Pertama dari Taurat yakni siapa saja yang rida dengan pemberian Allah, maka ia akan merasakan ketenangan dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat,’’ tuturnya.
Ini merupakan obat dan solusi penting yang dibutuhkan oleh orang-orang yang terjangkit penyakit jiwa, terus merasa kurang.
Sifat ’’terus merasa kurang’’ atau tama', akan membuat hati merasa lelah, gelisah dan selalu merasa miskin meski hartanya segunung. Ketika perasaan merasa kurang terus dirawat, maka penyakit-penyakit jiwa akan semakin parah. Bahkan mungkin terjadi komplikasi penyakit jiwa, yang akan menimbulkan serangan jantung iman dan takwa.
Kedua, ajaran dari kitab Injil: Siapa saja yang mampu meruntuhkan atau menundukkan syahwatnya, maka ia akan mulia di dunia dan akhirat.
Syahwat kalau jadi tuan, maka diri akan menjadi budaknya. Orang yang bisa menundukkan hawa nafsu justru dihormati. Dia tidak diperbudak perut, harta, atau pujian. Di dunia ia berwibawa, di akhirat ia aman dari neraka. Terhormat dan berwibawa di dunia, terkenal dan mulia di akhirat.
Ketiga, ajaran dari kitab Zabur: Siapa saja yang menyendiri dari manusia, ia akan selamat di dunia dan akhirat.
Maksudnya bukan anti-sosial, tapi uzlah yang bijak. Menjauh dari majelis gibah, fitnah, dan lingkungan yang merusak agama. Di dunia ia selamat dari masalah, di akhirat selamat dari dosa jamaah. Seperti kata ulama: Teman yang buruk lebih berbahaya dari musuh yang cerdas.
Dekat dengan orang akan menyalurkan energi orang tersebut. Dekat dengan orang saleh, maka akan tersaluri energi positif, ide positif, gerak hati positif dan pikiran postif. Ucapan dan gerakan pun menjadi positif. Begitupun sebaliknya.
Keempat, ajaran dari Alquran: Siapa saja yang menjaga lisannya, ia selamat di dunia dan akhirat.
Ini penutup yang kuat. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam. Banyak permusuhan dunia karena lisan. Banyak orang masuk neraka juga karena lisan. ’’Menjaga lisan sama dengan menjaga separuh agama,’’ terangnya.
Setiap kata yang kita ucapkan membawa energi. Maka pastikan hanya kebaikan yang keluar dari lisan kita. Kata-kata cerminan hati. Dan setiap ucapan doa yang bisa menjadi kenyataan. Jangan biarkan lisan kita menjadi sumber kesedihan.
Tapi jadikan ia penyemangat bagi diri sendiri dan orang lain. Ucapkan yang baik, doakan yang baik, dan percayalah kebaikan akan kembali pada kita. Setiap kata yang terucap benih yang kita tanam.
Pastikan hanya menanam hal-hal yang indah dan penuh berkah.
’’Hati-hati dengan ucapan, karena bisa menjadi doa yang diaminkan semesta tanpa kita sadari,’’ ungkapnya. Kata-kata memiliki kekuatan. Maka gunakanlah untuk menyebarkan cinta, harapan, dan kebahagiaan. Biarkan setiap kata yang keluar dari lisan kita menjadi doa terbaik. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sesama. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto