Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (18/5), anggota Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan keutamaan ibadah kurban.
’’Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang penuh kemuliaan. Pada bulan ini, umat Islam disyariatkan melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala,’’ tuturnya.
Syariat kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Nabi yang dikenal sangat sabar, tabah, dan tegar menghadapi ujian hidup. Karena ketulusan cintanya kepada Allah, beliau mendapat gelar Khalilullah, kekasih Allah.
Nabi Ibrahim memiliki harta yang melimpah, ternak yang banyak, dan keluarga yang bahagia. Semua itu tidak membuat beliau lalai dari ibadah.
Suatu ketika Nabi Ibrahim berkata, ’’Semua harta ini milik Allah dan hanya dititipkan kepadaku. Jika sewaktu-waktu diminta kembali oleh Allah, maka akan aku serahkan. Jangankan harta, seandainya anakku diminta pun akan aku serahkan.’’
Ucapan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian menjadi sebab datangnya ujian besar dari Allah, yaitu perintah menyembelih putranya yang sangat dicintai, Nabi Ismail alaihissalam.
Ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sama-sama tunduk kepada perintah Allah, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan besar. Dari peristiwa inilah syariat kurban bermula.
’’Ada beberapa pelajaran dari perintah kurban,’’ ucapnya.
Pertama, kurban sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Kata kurbanberasal dari kata qarraba yang berarti mendekat.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Alkautsar 2. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.
Kedua, ibadah kurban mengajarkan kepatuhan total kepada Allah meskipun perintah itu terasa berat. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah berkata: Nilai seseorang tergantung pada kadar ketaatannya kepada Allah.
Ketiga, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih hawa nafsu dan sifat buruk dalam diri manusia. Seperti sombong, rakus, egois, dan cinta dunia berlebihan.
Allah berfirman di Surat Alhajj 37. Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.
Keempat, mengajarkan kepedulian dan berbagi sesama. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat. Ini menunjukkan Islam mengajarkan solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Alhajj 28. Makanlah sebagian darinya dan berikanlah untuk dimakan orang yang sengsara lagi fakir.
Ibadah kurban bukan hanya ritual menyembelih hewan, tetapi pelajaran besar tentang cinta kepada Allah, ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Nabi Ibrahim mengajarkan, segala yang dimiliki hanyalah titipan Allah. Jika hati sudah dipenuhi cinta kepada Allah, maka pengorbanan sebesar apa pun akan terasa ringan.
Kurban menjadikan kita hamba yang lebih dekat kepada Allah, lebih taat, lebih ikhlas, dan lebih peduli kepada sesama..
Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkeliling malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak kelaparan. Ketika melihat seorang ibu memasak batu demi menenangkan anak-anaknya yang lapar, Umar menangis lalu memikul sendiri gandum untuk diberikan kepada keluarga itu. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto