RadarJombang.id - Ustad Hambali menjelaskan pentingnya meringankan beban orang lain, termasuk orang tua.
Hal itu diungkapkannya saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (8/5),
’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.
Baca Juga: Binrohtal di Polres Jombang, 4 Golongan Masuk Surga Tanpa Hisab
Ketika kita membantu orang lain, sejatinya Allah Ta’ala sedang menyiapkan pertolongan untuk hidup kita sendiri.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Ma’idah 2. Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.
Salah satu cara meringankan beban orang lain yakni dengan sedekah. Tidak harus kaya untuk bersedekah. Kadang sebungkus nasi bagi kita terlihat sederhana, tetapi bagi orang lain bisa menjadi penyelamat hidupnya hari itu.
Baca Juga: Binrohtal Polres Jombang, Utamakan Takwa
Rasulullah bersabda: Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api Takutlah kalian kepada neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma.
Meski sedikit bantuan yang diberikan dengan ikhlas sangat berharga di sisi Allah Ta’ala.
Islam juga mengajarkan keseimbangan. Sedekah tidak boleh membuat keluarga sendiri terlantar.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Ath-Thalaq 7. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
Menolong dengan pinjaman yang baik. Memberi utang tanpa riba termasuk amal besar.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Albaqarah 280. Jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia lapang. Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau seluruh utang itu), maka itu lebih baik bagimu.
Rasulullah bersabda: Siapa memberi tenggang waktu kepada orang yang kesulitan atau membebaskan utangnya, Allah akan menaunginya pada hari kiamat.
Baca Juga: Binrohtal Polres Jombang, Utamakan Takwa
Alkisah, ada pedagang yang suka membebaskan utang orang miskin. Karena kebaikannya itu, Allah mengampuni dosa-dosanya.
Meski Islam menganjurkan memberi kelonggaran, orang yang berutang tetap wajib bertanggung jawab. Jangan sengaja menunda pembayaran padahal mampu.
Rasulullah bersabda: Ruh seorang mukmin tergantung karena utangnya sampai utang itu dilunasi.
Baca Juga: Binrohtal diPolres Jombang, Kurma Busuk Berkah
Karena itu, orang yang berutang harus jujur tentang keadaannya, tidak menghilang, dan terus berusaha melunasi. Jangan menjadikan anjuran memaafkan utang sebagai alasan untuk lari dari tanggung jawab.
Dikisahkan ada seorang lelaki miskin di zaman dahulu yang datang kepada tetangganya untuk meminjam sedikit gandum demi memberi makan anak-anaknya.
Tetangganya itu sebenarnya juga tidak kaya, tetapi ia teringat sabda Nabi tentang menolong sesama. Akhirnya ia memberikan sebagian persediaan makan keluarganya sendiri.
Malam itu keluarganya hanya makan seadanya. Namun beberapa hari kemudian Allah membukakan pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.
Usahanya menjadi lancar dan kehidupannya jauh lebih baik. Ia pun berkata, ’’Aku tidak pernah rugi karena membantu orang lain.’’
Begitulah janji Allah. Bisa jadi sedekah yang kita keluarkan menjadi sebab datangnya pertolongan, kesehatan, ketenangan, bahkan keselamatan hidup kita.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Saba’ 39. Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. (jif/naz)
Editor : Achmad RW