Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (5/5),
Ustad Salim Aljufri dari PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan menjelaskan keutamaan memuliakan bulan Dzulqa’dah.
’’Orang yang memuliakan hal yang dimuliakan Allah maka akan dimuliakan Allah Ta’ala,’’ tuturnya.
Bulan Dzulqa’dah salah satu dari empat bulan mulia (ashurul hurum) yang diagungkan oleh Allah. Di bulan ini, amal kebaikan dilipatgandakan, dan maksiat pun lebih berat dosanya.
Allah Ta’ala berfirman di Surat At-Taubah 36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Ibnu Abbas radiyallahu anhuma berkata: Kezaliman di bulan haram lebih besar dosanya, dan amal saleh lebih besar pahalanya.
Imam Qatadah berkata: Sesungguhnya Allah memilih sebagian waktu atas sebagian lainnya dan melipatgandakan pahala serta dosa di dalamnya.
Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barang siapa mengagungkan apa yang diagungkan Allah, maka Allah akan memuliakannya.
Orang yang memuliakan bulan yang dimuliakan Allah maka akan dimudahkan saat sakaratul maut. Di antara cara memuliakan bulan mulia yakni dengan memperbanyak puasa.
Rasulullah bersabda: Berpuasalah di bulan-bulan haram. Puasa tiga hari di bulan haram, Kamis, Jumat dan Sabtu, pahalanya seperti ibadah 900 tahun.
Orang yang memuliakan bulan mulia akan mendapatkan tiga pertolongan Allah Ta’ala.
Pertama, hilang rasa haus saat sakaratul maut. Orang yang sakaratul sangat merasakan haus. Setan datang menawari minuman namun dengan syarat meninggalkan agama Islam.
Kedua, wafat dalam keadaan membawa iman.
Rasulullah bersabda: Barang siapa yang akhir ucapannya ‘La ilaha illallah’, maka ia masuk surga.
Ketiga, selamat dari tipu daya setan. Saat sakaratul maut, setan datang menyerupai bapak ibu mengajak keluar dari Islam.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Hijr 42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau (setan) tidak memiliki kekuasaan atas mereka.
Orang yang dekat dengan Allah akan dijaga dari tipu daya setan, terutama di saat-saat genting.
Dikisahkan seorang pemuda sangat menjaga bulan-bulan haram. Ia memperbanyak puasa dan menjauhi maksiat. Ketika sakaratul maut, ia tersenyum. Orang bertanya: Apa yang engkau rasakan? ’’Aku melihat pintu langit terbuka dan amalku yang sedikit diterima oleh Allah.’’
Ada pula kisah seorang yang meremehkan bulan mulia. Ia tetap bermaksiat seolah tidak ada perbedaan waktu.
Saat sakaratul maut, ia gelisah, kehausan, dan sulit mengucap kalimat tauhid.
Para ulama berkata: ’’Itulah balasan bagi yang meremehkan waktu yang dimuliakan Allah.’’
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto