Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (28/4), Wakil Rois Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jombang, KH Asyharun Nur, menjelaskan keutamaan bulan Dzulqa’dah. ’’Bulan Dzulqa’dah ini termasuk empat bulan mulia,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman di Surat At-Taubah 36. Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (mulia) yakni Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharam.
Dzulqa’dah dalam tradisi Jawa disebut bulan Selo, imaknai sebagai waktu untuk banyak ’’sila’’ (duduk tenang), memperbanyak zikir, dan menghadap kepada Allah Ta’ala.
Keistimewaan bulan Dzulqa’dah yang pertama, bulan persiapan ibadah haji. Dzulqa’dah merupakan bagian dari bulan-bulan haji. Pada bulan ini, kaum muslimin mulai bersiap menunaikan ibadah haji.
Allah berfirman di Surat Al-Baqarah 197; Haji itu (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang telah diketahui yakni Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.
Kedua, di bulan Dzulqa’dah dianjurkan memperbanyak umrah. Rasulullah beberapa kali melaksanakan umrah di bulan Dzulqa’dah. Ini menunjukkan keutamaan umrah di bulan ini.
Dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma: Rasulullah melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah.
Ketiga, pahala amal di bulan Dzulqa’dah dilipatgandakan 70 kali lipat. Abdullah ibn Abbas berkata: Allah mengkhususkan empat bulan haram, menjadikan dosa di dalamnya lebih besar dan amal saleh lebih agung pahalanya.
Keempat, dosa juga dilipatgandakan. Perbuatan maksiat di bulan ini juga lebih berat.
Qatadah ibn Di'amah berkata: Kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibanding bulan lainnya, meskipun kezaliman di mana pun tetap besar.
Kelima, dianjurkan memperbanyak doa, khususnya untuk umat Islam. Bulan ini menjadi momentum memperbanyak doa, terutama untuk saudara-saudara muslim yang sedang tertimpa musibah atau konflik.
Rasulullah bersabda: Doa adalah senjata orang mukmin.
Keenam, meningkatkan ibadah, salat dan puasa. Memperbanyak salat berjamaah dan puasa sunah sangat dianjurkan, karena pahalanya berlipat ganda.
Rasulullah bersabda: Puasa sunah adalah perisai. Berpuasalah niscaya sehat.
Puasa tiga hari berurutan pada Kamis, Jumat dan Sabtu di bulan mulia pahalanya seperti ibadah 900 tahun.
Ketujuh, memperbanyak sedekah. Sedekah di bulan mulia memiliki keutamaan besar.
Allah berfirman di Surat Al-Baqarah 261. Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap bulir ada 100 butir.
Kedelapan, di bulan Dzulqa’dah terjadi peristiwa perjanjian Hudaibiyah. Ini kesepakatan damai antara kaum muslimin dan Quraisy.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam mengedepankan perdamaian dan strategi dalam berdakwah.
Seorang ulama salaf ketika memasuki bulan-bulan haram, mengurangi aktivitas dunia dan memperbanyak ibadah. Muridnya bertanya, ’’Mengapa engkau begitu bersungguh-sungguh di bulan ini?’’
Ia menjawab,’’Jika para pedagang dunia memanfaatkan musim untuk meraih keuntungan, maka orang beriman lebih berhak memanfaatkan musim kebaikan untuk meraih pahala.’’
Ada pula kisah seorang ahli ibadah yang setiap memasuki bulan Dzulqa’dah selalu memperbanyak sedekah secara diam-diam. Ketika ditanya, ia berkata, ’’Aku takut jika bulan mulia ini berlalu, sementara aku tidak membawa bekal yang cukup untuk akhiratku.’’
(jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto