Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Tanda Dikehendaki Allah Menuju Kebaikan    

Rojiful Mamduh • Selasa, 28 April 2026 | 06:48 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (27/4), Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jombang, Dr Abd Basit Misbachul Fitri, menjelaskan tanda seseorang dikehendaki baik oleh Allah Ta’ala. ’’Tanda seseorang dikehendaki Allah menuju kebaikana ada tiga,’’ tuturnya.

 

Kata ’’dikehendaki Allah’’ bukan berarti seseorang menjadi baik tanpa usaha. Justru, itu tanda bahwa Allah membimbingnya untuk mau berusaha, mau belajar, dan mau memperbaiki diri. Semakin seseorang bergerak menuju kebaikan, itu pertanda Allah membukakan jalan baginya.

 

Pertama, dipahamkan ilmu agama. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.

 Bukan sekadar tahu, tapi juga senang belajar dan mengamalkan.

Dikisahkan seorang pemuda yang awalnya jauh dari agama. Suatu hari ia datang ke majelis ilmu hanya karena diajak temannya. Awalnya ia bosan, tetapi lama-lama hatinya tersentuh. Ia mulai rutin hadir, meninggalkan maksiat, hingga akhirnya menjadi orang yang istiqamah.

Langkah kecil menuju ilmu adalah tanda Allah menginginkan kebaikan baginya.

 

Kedua, zuhud terhadap dunia. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Harta, jabatan, dan kenikmatan tidak menguasai hatinya.

 

Rasulullah bersabda: Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Bersikap zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya manusia mencintaimu.

 

Allah juga mengingatkan di Surat Ali Imran 185. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Diceritakan seorang ulama besar diberi hadiah harta yang sangat banyak oleh seorang penguasa. Namun ia menolaknya dengan lembut seraya berkata, ’’Jika ini membuatku dekat kepada Allah, aku ambil. Jika ini menjauhkan aku dari-Nya, maka aku tidak butuh.’’ Ia tetap hidup sederhana. Justru dari kezuhudannya, Allah mengangkat derajatnya di hati manusia.

 

Ketiga, melihat kekurangan diri sendiri. Mampu melihat aib diri sendiri, bukan sibuk mengurusi kekurangan orang lain.

 

Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Qiyamah 14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.

 

Rasulullah bersabda; Beruntunglah orang yang sibuk memperbaiki aibnya sendiri dibanding mengurusi aib orang lain.

 

Ibn Ataillah al-Iskandari mengatakan; Asal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah rida terhadap diri sendiri.

Ada seorang saleh yang setiap malam menangis. Ketika ditanya, ia menjawab, ’’Aku menangisi dosaku, karena aku lebih sibuk melihat kesalahan orang lain daripada memperbaiki diriku.’’ Sejak saat itu ia berubah: lebih banyak diam, lebih banyak introspeksi. Akhirnya ia dikenal sebagai orang yang lembut dan bijak. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#binrohtal polres jombang #Jombang