Saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (24/4), Pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Al-Hafidz, Trawasan, Sumobito, Ustad M Hafidz Alhafiz, menjelaskan pentingnya bekerja amanah. ’’Bekerja amanah membuat rezeki berkah,’’ tuturnya.
Pertama, amanah dan tanggung jawab adalah perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan di Surat An-Nisa’ 58. Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.
Amanah mencakup semua bentuk tanggung jawab: Pekerjaan, jabatan, waktu, hingga kepercayaan masyarakat.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah.
Imam Ghazali berkata: Rusaknya manusia karena rusaknya pemimpin, dan rusaknya pemimpin karena hilangnya amanah.
Dikisahkan seorang pegawai di masa tabi’in menemukan uang di kantor. Ia bisa saja mengambilnya tanpa diketahui orang lain, tetapi ia justru mengumumkan dan mengembalikannya. Ketika ditanya alasannya ia berkata, ’’Aku lebih takut pada pengawasan Allah daripada pengawasan manusia.’’ Karena kejujurannya, ia kemudian dipercaya menduduki jabatan yang lebih tinggi.
Kedua, amanah dalam pekerjaan berpengaruh pada kebaikan keluarga. Harta yang halal dan diperoleh dengan jujur akan menjadi sebab kebaikan bagi anak dan istri.
Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Mu’minun 51. Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal yang saleh.
Rasulullah bersabda: Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih layak baginya.
Seorang ayah bekerja sebagai pegawai dengan penuh kejujuran meski gajinya kecil. Ia menolak suap yang bisa membuat hidupnya mewah. Tahun demi tahun berlalu, anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang saleh dan sukses. Ketika ditanya rahasianya, ia berkata, ’’Aku menjaga apa yang masuk ke perut mereka.’’
Ketiga, rezeki halal walau sedikit membawa berkah. Rezeki haram itu cepat hilang dan Allah akan menghancurkannya.
Allah berfirman di Surat Albaqarah 276. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.
Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata; Kesabaran dalam yang halal lebih baik daripada kenikmatan dalam yang haram.
Ada pegawai yang memilih pekerjaan kecil yang halal. Beberapa waktu kemudian, usahanya berkembang dengan cara yang tidak disangka-sangka. Sementara orang yang mengambil jalan haram justru bangkrut dan hidupnya diliputi masalah. Inilah bukti bahwa berkah lebih berharga daripada jumlah.
Keempat, larangan menerima suap berkedok hadiah. Bagi pegawai dan pejabat, menerima hadiah terkait jabatan adalah bentuk pengkhianatan.
Rasulullah bersabda: Hadiah bagi para pegawai adalah ghulul (pengkhianatan). Dalam hadis lain, ketika seorang petugas zakat menerima hadiah, Nabi bersabda: Mengapa tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, lalu lihat apakah ia diberi hadiah atau tidak?
Allah berfirman di Surat Ali Imran 161; Dan barangsiapa berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya.
Imam An-Nawawi berkata: Hadiah kepada pejabat jika berkaitan dengan jabatan, maka hukumnya haram karena termasuk suap.
Seorang pejabat di masa khalifah menolak hadiah dari seorang pedagang. Ia berkata, ’’Jika bukan karena jabatanku, engkau tidak akan memberiku ini.’’ Ia pun mengembalikannya. Sikap ini membuatnya dihormati dan dipercaya rakyatnya, serta selamat dari hisab yang berat di akhirat. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto