Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan 292: Merespons Janji Tuhan yang Pasti dengan Ketaatan

Rojiful Mamduh • Minggu, 19 April 2026 | 07:11 WIB
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Pdt Petrus Harianto STh
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Pdt Petrus Harianto STh

RadarJombang.id - Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik tentang pentingnya merespons janji tuhan yang pasti dengan ketaatan.

Pernahkah kita menghitung berapa banyak janji yang pernah kita buat, baik kepada sesama atau juga pada Tuhan?

Kita mungkin pernah membuat janji kepada seseorang, sementara di dalam hati kita sadar bahwa ada kemungkinan janji itu tidak terpenuhi.

Baca Juga: Renungan 291: Takut akan Tuhan Menjamin Masa Depan Kita  

Seorang ayah, misalnya, berkata kepada anaknya, ’’Nanti kalau ayah sudah longgar waktunya, kita jalan-jalan bersama.’’

Kalimat itu diucapkan dengan niat baik, tetapi sang ayah tahu bahwa pekerjaan atau situasi yang lain bisa membuat tidak terpenuhi.

Inilah realitas manusia: Janji sering dibuat berdasarkan niat, bukan kepastian.

Baca Juga: Renungan Minggu 290: Kebangkitan Yesus Membangkitkan Harapan Baru

Firman Tuhan menghadirkan hal yang berbeda dan sangat tajam antara janji manusia dan janji Allah.

Allah tidak pernah berjanji berdasarkan kemungkinan, melainkan berdasarkan kesetiaan-Nya sendiri.

Sepanjang sejarah keselamatan, Alkitab mencatat janji-janji Allah yang tampak mustahil di mata manusia. 

Allah berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan kembali ke tanah perjanjian setelah ratusan tahun.

Janji itu melampaui satu generasi, bahkan melampaui umur manusia yang menerimanya. Namun Allah tetap setia menepati janji-Nya.

Musa pun mengambil langkah ketaatan yang tidak masuk akal menurut logika manusia, karena ia percaya Allah setia pada janji-Nya.

Kitab Ibrani menegaskan bahwa Musa ’’lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa” (Ibr. 11:24–25).

Baca Juga: Renungan Minggu 289: Sabar Menanti Pertolongan dengan Iman

Meskipun bangsa Israel mengalami pasang surut dalam iman dan ketaatan. Namun ketidaksetiaan manusia tidak pernah membatalkan kesetiaan Allah.

Janji-Nya kepada Abraham untuk memberikan tanah perjanjian kepada keturunannya digenapi, bukan karena manusia layak, melainkan karena Allah setia kepada firman-Nya sendiri.

Kesetiaan Allah tidak bergantung pada kestabilan manusia, melainkan pada karakter-Nya yang tidak pernah berubah.

Baca Juga: Renungan Minggu 288: Seberat Apapun Tantangan Jangan Pernah Menyerah  

Allah menyampaikan janji-janji-Nya dengan memperhitungkan kehendak bebas manusia. Ia tahu bahwa manusia dapat menolak, menunda, bahkan mengkhianati panggilan-Nya.

Di situlah ketaatan diuji. Ketaatan bukan sekadar melakukan perintah, melainkan keputusan sadar untuk menundukkan diri kepada kehendak Allah, sekalipun situasi tidak mendukung.

Ketika kita merespons janji Allah dengan ketaatan, hidup kita diselaraskan dengan kesetiaan-Nya. 

’’Ketaatan bukan sarana untuk menegosiasikan tindakan Allah, melainkan jalan untuk menyelaraskan hidup kita dengan kesetiaan-Nya yang kekal. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)

Editor : Achmad RW
#merespons janji tuhan #GPdI House of Prayer Sawahan #Petrus Harianto STh #Renungan Minggu