Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (13/4), anggota Komisi Dakwah MUI Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan perkara pokok. ’’Imam Sahal bin Abdullah berkata; Yang paling pokok bagi kita ada lima perkara. Berpegang teguh pada kitab Allah. Mengikuti sunnah Rasulillah. Makanan yang halal. Meninggalkan dosa dan menjalankan kewajiban,’’ tuturnya.
Pertama, berpegang teguh pada kitab Allah Ta’ala. Alquran adalah sumber utama petunjuk hidup. Tanpa Alquran, manusia akan mudah tersesat oleh hawa nafsu dan dunia.
Allah berfirman di Surat Ali ‘Imran 103. Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya: Kitab Allah dan sunahku.
Abdullah bin Mas'ud berkata: Barangsiapa ingin ilmu, hendaklah ia mentadabburi Alquran. Membaca dan mendengarkan Alquran mendatangkan hidayah. Umar bin Khattab radiyallahu anhu masuk Islam setelah mendengar adiknya membaca Surat Toha.
Kedua, mengikuti sunah Rasulullah. Sunah adalah penjelas Alquran. Tanpa sunah, pemahaman agama akan menyimpang. Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Hasyr 7. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.
Rasulullah bersabda: Barangsiapa menghidupkan sunahku, maka ia mencintaiku.
Imam Malik berkata: Sunah itu seperti bahtera Nabi Nuh. Siapa yang menaikinya akan selamat.
Seorang ulama tabi’in selalu makan dengan tangan kanan dan duduk rapi. Ketika ditanya, ia berkata: ’’Aku tidak ingin meninggalkan satu sunah pun, karena aku tidak tahu sunah mana yang akan menyelamatkanku di hadapan Allah.”
Ketiga, makanan yang halal. Yang kita makan sangat memengaruhi hati dan amal. Allah Ta’ala berfirman di Surat Albaqarah 168. Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik.
Rasulullah bersabda: Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.
Ada seorang ahli ibadah yang doanya tidak dikabulkan. Setelah ditelusuri, ternyata ia memakan makanan syubhat. Setelah ia bertobat dan memperbaiki makanannya, doanya pun mulai dikabulkan.
Keempat, meninggalkan dosa. Meninggalkan dosa lebih utama daripada memperbanyak amal sunah. Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-An’am 120. Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi.
Hasan al-Basri berkata: Tidaklah ringan suatu dosa, tetapi yang membuatnya ringan adalah karena sering dilakukan.
Seorang lelaki mengadu kepada seorang wali tentang kerasnya hatinya. Sang wali berkata: ’’Tinggalkan dosa.”
Setelah meninggalkan dosa, hatinya menjadi lembut dan mudah menangis ketika beribadah.
Kelima, menjalankan kewajiban. Kewajiban adalah prioritas utama. Amal sunah tidak akan berarti jika kewajiban ditinggalkan. Dalam hadis qudsi Allah berfirman: Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.
Dikisahkan ada orang yang rajin zikir tetapi sering meninggalkan salat berjamaah. Seorang ulama menasihatinya: ’’Perbaiki yang wajib, maka Allah akan membukakan yang lainnya.’’
Setelah ia menjaga salatnya, ia merasakan ketenangan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto