Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gus Zuem: Selamat Berperang Besar

Anggi Fridianto • Senin, 13 April 2026 | 05:34 WIB
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As'ad

 

TENANG, Anda jangan terburu-buru menghubungkan judul di atas dengan tindakan agresor AS dan Israel menyerbu Iran lagi.

Meski saat ini perundingan AS dan Iran sedang deadlock untuk menyepakati proposal Iran. Karena, kali ini saya akan membahas peperangan dimensi lain yang beda medannya, beda musuhnya dan beda juga persenjataannya. Senyampang masih Syawal.

Pada tahun ke 2 Hijriyah (624 M), bulan Sya’ban ( Ruwah ) Allah menurunkan perintah untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Pada hari-hari awal puasa tersebut kanjeng Nabi beinisiatif untuk melakukan gerakan penghadangan kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan, dengan tujuan mengambil alih harta-benda sahabat Muhajirin yang dikuasai tanpa hak oleh kaum Quraisy, di Makkah.

 Mengetahui gerakan tersebut, Abu Sufyan menghindari titik penghadangan dan kembali ke Makkah dengan selamat. Namun, di benak ketua kafilah dagang itu terbersit pemikiran bahwa Madinah harus segera dihancurkan, karena mengganggu arus dan pertumbuhan ekonomi “dunia”. Dan Madinah harus segera dihapus dari peta bumi, karena menghalangi “hegemoni” Quraisy.

Dari pola pikir yang jahat itu, Abu Sufyan segera mengumpulkan seluruh tokoh kota Makkah untuk menentukan sikap bersama dalam menghadapi Madinah yang mulai menunjukkan eksistensinya. Maka, diputuskanlah bahwa Madinah harus diberi pelajaran, diperangi. Dikembalikan ke zaman batu.

Baca Juga: Kajian Ramadan di Unipdu Jombang, Gus Zuem: Upaya Tingkatkan Wawasan Keilmuan

Sebagai panglima perang, disepakati tokoh yang paling benci nabi Muhammad : Amr bin Hisyam ( Abu Jahal ).

 Dengan dua minggu persiapan, terkumpullah seribu tentara Quraisy bersenjata lengkap yang siap tempur.

Mendengar kabar akan ada serbuan dari Makkah, kanjeng Nabi pun berseru kepada para sahabat untuk jihad fi sabilillah menghadapi tentara Quraisy di sumur Badar.

Maka bersama 313 orang mujahid, Rasulullah meladeni tantangan perang Badar dengan semangat juang yang tinggi.

Dalam hitungan akal, sangat mustahil mendapat kemenangan. Namun karena pertolongan Allah dan daya tempur yang luar biasa, kemenangan pun diraih tentara Rasulullah.

Pada tanggal 17 Ramadhan 2 Hijriyah itu, ketika perang berakhir, Rasulullah mengajak pulang para tentara muslim yang masih berdarah-darah sambil berkata : raja’na min jihadil asghari ila jihadil akbar  ( kita pulang dari peperangan kecil menuju perang yang lebih besar ).

Mendengar kalimat tersebut, tentu para sahabat penasaran. Mereka berpikir bahwa perang 1 lawan 3 dengan senjata seadanya ini sudah sangat berat dan besar, kok kanjeng Nabi mengatakan perang kecil.

 Maka sahabat pun bertanya : “masihkah ada perang lagi yang lebih besar dari ini, ya Rasul.?”. “Ada..” jawab kanjeng Nabi “jihadun nafs, berperang melawan hawa nafsu diri sendiri”.

Betul, perang melawan hawa nafsu adalah perang yang sangat besar dan berat. Karena musuh dan medan tempurnya tak kasat mata dan tak berjarak. Super dekat.

 Di dalam hati ini. Maka senjata yang kita butuhkan pun bukan lagi senapan, granat maupun rudal yang canggih tapi senjata yang sangat khusus. Senjata untuk mengamankan hati agar selalu bersih dari para “pemberontak” itu, salah satu senjatanya berupa ashshabr ( kesabaran). 

Baca Juga: Kajian Ramadan di Unipdu Jombang, Gus Zuem Ungkap Etika Penggunaan AI dalam Kehidupan Muslim

 Layaknya rudal Iran yang beragam jenisnya, Al-Ghazali pun  membagi sabar menjadi beberapa jenis.

 

Pertama, sabar dalam ketaatan : Sikap hati yang bertahan untuk terus taat, meski berat. Istiqamah puasa, shalat malam, bersikap adil, memberikan hak orang lain, dan sebagainya. Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat :

Kekuatan hati untuk menahan diri dari godaan dosa, walau peluang terbuka lebar. Menghindarkan semua indra dari kesenangan dan hiburan yang dapat membuat kita lalai bahwa yang kita lakukan itu tak disukai Allah dan Rasulnya. Ketiga, sabar menghadapi ujian : Keikhlasan hati untuk menerima takdir yang pahit (musibah) tanpa protes kepada Allah. Kehilangan orang tercinta atau jabatan.

Anak atau bawahan yang tak patuh. Pimpinan yang tak perhatikan suara bawahan. Semuanya itu adalah ujian, yang harus kita hadapi dengan sabar.

 

Bila ketiga kesabaran itu telah kita miliki, maka saya yakin kemenangan ada di pihak kita. Bismillah selamat berperang besar. Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar. Wallahu-a’lam bishshawab.

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Kolom Gus Zuem #KH Zaimudin As'ad #Jombang #Ponpes Darul Ulum Rejoso #Kecamatan Peterongan