Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Tiga Amal Paling Dicintai Allah

Rojiful Mamduh • Sabtu, 14 Maret 2026 | 04:24 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (12/3), Pengasuh PP Tahfidzul Quran Roudhotul As’adiyah, Semanding, Sumbermulyo, Jogoroto, Gus As'ad Nawawi Alhafiz, menjelaskan amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. ’’Ada tiga amal yang paling dicintai Allah Ta’ala,’’ tuturnya.

Abdullah ibn Mas'ud radiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam; Ya Rasulullah, amal apakah yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala?

Rasulullah menjawab: Salat pada waktunya. Kemudian apa lagi? Berbakti kepada kedua orang tua. Kemudian apa lagi? Berjihad di jalan Allah.

 

Pertama, salat tepat pada waktunya. Salat adalah tiang agama. Allah Ta’ala berfirman di Surat An-Nisa 103. Sesungguhnya salat itu kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Menjaga waktu salat termasuk bersegera melaksanakan salat dan lebih utama lagi berjamaah di masjid bagi laki-laki.

 

Imam besar tabi’in Sa'id ibn al-Musayyib berkata: Tidak pernah terdengar azan selama 40 tahun kecuali aku sudah berada di masjid sebelum iqamah.

Ini menunjukkan betapa besar perhatian generasi salaf terhadap salat tepat waktu.

 

Wali besar, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, sejak kecil sangat menjaga salat berjamaah. Suatu hari ketika masih kecil, ibunya bertanya: Wahai anakku, mengapa engkau selalu berlari ketika mendengar adzan? ’’Karena aku takut Allah memanggilku tetapi aku terlambat memenuhi panggilan-Nya.’’

 

Karena kedisiplinannya menjaga salat, beliau kemudian menjadi ulama besar yang memberi manfaat bagi umat di seluruh dunia.

 

Rasulullah bersabda; Orang yang dengar azan lalu berwudu dan berangkat ke masjid kelak di akhirat wajahnya bercahaya seperti bintang. Orang yang kala azan sudah berwudu wajahnya di akhirat seperti rembulan. Orang yang kala azan sudah berwudu dan di dalam masjid, wajahnya seperti matahari.

 

Kedua, berbakti kepada kedua orang tua. Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Isra 23; Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.

 

Perintah berbakti kepada orang tua selalu disebut setelah perintah tauhid, menandakan betapa besarnya kedudukan mereka.

Rasulullah bersabda: Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.

Uwais al-Qarani sangat berbakti kepada ibunya yang sudah tua dan sakit. Karena merawat ibunya, ia tidak sempat datang menemui Rasulullah walaupun sangat ingin.

 

Namun Rasulullah justru memuji beliau di hadapan para sahabat dan berkata kepada Umar ibn al-Khattab dan Ali ibn Abi Talib: Akan datang kepada kalian seorang bernama Uwais dari Yaman. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah ia mendoakan kalian. Kemuliaan ini diberikan karena keikhlasanya dalam berbakti kepada ibunya.

 

Ketiga, berjuang di jalan Allah Ta’ala. Yakni segala bentuk perjuangan untuk menegakkan agama Allah, termasuk dakwah, menuntut ilmu, mengajarkan agama, dan mempertahankan kebenaran.

 

Allah Ta’ala berfirman di Surat Al-Hajj 78; Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.

Bahasa para ulama Jawa; Orep-orep agomone Gusti Allah — hidup untuk memperjuangkan agama Allah Ta’ala. (jif/naz)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #Kota Santri #polres jombang