Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Gus Zu'em: Senyum Dahsyat Menlu Iran

Anggi Fridianto • Senin, 9 Maret 2026 | 04:20 WIB

Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As'ad
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As'ad

DALAM dunia diplomasi, ucapan biasanya ditimbang dengan sangat hati-hati. Kalimat disusun rapi, nada dijaga tetap netral, dan jawaban sering kali dipilih yang paling aman. Namun kali ini muncul momen langka ketika satu kalimat pendek diucapkan dengan santai, justru mengguncang persepsi dunia.

Itulah yang terjadi ketika Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, diwawancarai seorang presenter televisi NBC. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya sangat biasa dalam norma wawancara politik: “Apakah Iran takut dengan kemungkinan invasi militer Amerika Serikat.?”

Pertanyaan semacam itu biasanya dijawab dengan bahasa diplomatik. Misalnya dengan mengatakan  bahwa Iran memiliki sekutu strategis Rusia dan China yang tak akan tinggal diam. Atau dengan mengalihkan pembicaraan pada pentingnya stabilitas kawasan teluk.

Namun jawaban Araghchi justru keluar dari kelaziman musuh-musuh Amerika. “Tidak,” katanya tenang, “kami sedang menunggu mereka.” Presenter itu sempat memastikan ulang, barangkali ia merasa salah dengar. “Anda menunggu tentara Amerika datang berperang di darat.?”.  “Ya,” jawab Araghchi lagi, kali ini dengan senyum tipis, “kami yakin bisa menghadapinya. Dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka.”

Kalimat itu pendek. Nada bicaranya datar. Namun efek psikologisnya terasa sangat kuat. Dalam politik global, kadang bukan volume suara yang menentukan kekuatan pesan, melainkan keyakinan yang tersirat di baliknya. Senyum tipis itu seperti mengatakan satu hal: Iran tidak sedang berbicara pada posisi takut. Dalam dinamika hubungan internasional, persepsi psikologis sering kali sama pentingnya dengan kekuatan militer. Negara yang terlihat ragu akan mudah ditekan. Sebaliknya, negara yang menunjukkan kepercayaan diri dapat membuat lawannya gentar.

Tak lama setelah pernyataan itu beredar luas, muncul berbagai spekulasi tentang dampaknya terhadap kalkulasi politik di Washington. Donald Trump, yang sebelumnya sesumbar dapat menuntaskan perang dalam empat atau lima minggu, kemudian merevisi estimasinya menjadi lebih panjang, bahkan hingga enam bulan.

Di saat yang sama, publik juga menyaksikan sebuah pemandangan yang tidak biasa di Gedung Putih. Trump, yang selama ini dikenal sebagai figur politik yang sangat sekuler dalam gaya hidupnya, mengundang puluhan pendeta Evangelis ke Ruang Oval. Mereka berkumpul dan melakukan ritual doa dengan sikap “laying on of hands”, menumpangkan tangan di atas orang yang didoakan.

Bagi sebagian pengamat, langkah itu menunjukkan bahwa tekanan psikologis dalam konflik geopolitik tidak hanya dirasakan oleh negara kecil atau negara berkembang. Bahkan pemimpin negara adidaya pun dapat merasakannya. Patut dimaklumi bahwa kekuatan pernyataan Araghchi sebenarnya tidak hanya terletak pada retorika. Ia berdiri di atas fondasi sejarah panjang yang teruji.

Iran memiliki pengalaman perang yang membentuk mental kebangsaannya. Selama delapan tahun (1980-1988), negara itu bertahan dari gempuran tentara koalisi Irak yang dipimpin Saddam Hussein. Irak saat itu mendapat dukungan luas dari berbagai kekuatan internasional, mulai dari AS, Uni Soviet, hingga sejumlah negara Arab dan Eropa.

Perang panjang itu berakhir tanpa pemenang. Sehingga Iran tidak runtuh. Negara yang dipimpin para mullah tetap bertahan dan berdiri tegak hingga hari ini. Padahal sejak saat itu tekanan terhadap Iran tidak pernah benar-benar berhenti. Memang tidak melalui perang terbuka, tapi melalui embargo ekonomi yang panjang dan ketat. Selama puluhan tahun Iran hidup dalam kondisi keterbatasan akses terhadap sistem ekonomi global.

Akan tetapi sejarah justru menunjukkan paradoks yang menarik: tekanan sering kali melahirkan ketahanan yang solid. Karena itu, ketika Iran mampu merespons serangan Israel dengan cepat dan masif dalam perang 12 hari Juni 2025 lalu, banyak pengamat internasional menggelengkan kepala. Mereka baru menyadari bahwa negara yang lama dipersepsikan terisolasi itu ternyata memiliki daya tahan strategis yang kuat.

Dari uraian di atas, setidaknya menceritakan bahwa dalam percaturan geopolitik, kebijakan negara  dan sikap pemimpinnya memiliki makna yang besar. Sehingga satu senyum tipis yang disertai keyakinan dan integritas nasionalisme yang kuat, kadang lebih dahsyat dampaknya daripada pidato lantang yang berapi-api.

Maaf, ini bulan Ramadhan. Mohon kiranya pembaca tidak membandingkan kewibawaan menlu Iran dengan siapa pun di negeri kita ini. Agar pahala puasa kita tetap terjaga. Wallahu a’lam bishshawab.

Editor : Anggi Fridianto
#peterongan #KH Zaimudin As'ad #menlu iran #Jombang #Pondok Pesantren Darul Ulum #Rejoso #kolom #Gus Zuem