Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (4/3), Pengasuh Pesantren Al Manshuriyah, Kalijaring, sekaligus Ketua MUI Kecamatan Tembelang, KH Nur Kholis, menjelaskan tanda celaka dan bahagia. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tanda celaka dan bahagia ada empat,’’ tuturnya.
Tanda orang celaka pertama, lupa pada dosa yang telah berlalu. Dia melupakan dosa-dosanya, seakan tidak pernah melakukan kesalahan. Rasulullah bersabda: Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang akan menimpanya, sedangkan orang pendosa melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya.
Hasan Al-Basri rahimahullah sering menangis. Alasannya; ’’Aku takut dosa yang telah kulakukan dahulu masih ditulis oleh Allah Ta’ala, sementara aku telah melupakannya.’’
Kedua, selalu ingat kebaikan yang telah berlalu. Bahkan merasa besar dengan amal tersebut.
Allah Ta’ala berfirman di QS An-Najm 32. Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang paling bertakwa.
Ketiga, dalam urusan dunia melihat orang yang lebih tinggi. Selalu melihat orang yang lebih kaya, lebih sukses, lebih mewah hidupnya sehingga ia tidak pernah merasa cukup.
Rasulullah bersabda: Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia, dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.
Ada seorang fakir yang mengadu kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah: Aku sangat sedih karena miskin. Ibrahim bin Adham bertanya: Apakah engkau mau menjual kedua matamu dengan seratus ribu dinar? ’’Tidak.’’ Bagaimana dengan tanganmu? ’’Tidak.’’
Ibrahim berkata: Engkau memiliki ratusan ribu dinar berupa nikmat, tetapi masih mengeluh miskin? Orang itu pun menangis.
Keempat, dalam urusan agama melihat orang di bawahnya. Merasa dirinya sudah baik karena membandingkan dengan orang yang lebih buruk dalam agama.
Suatu hari seorang ahli ibadah berkata kepada Rabi’ah Al-Adawiyah: Aku lebih baik dari banyak manusia karena aku rajin ibadah.
Rabi’ah menjawab: ’’Jika engkau melihat orang yang lebih buruk darimu, engkau menjadi sombong. Tetapi jika engkau melihat orang yang lebih baik darimu, engkau akan menjadi rendah hati.’’
Orang itu pun sadar dan bertobat.
Sedangkan tanda orang bahagia yang pertama, selalu ingat dosa yang telah lalu. Ini membuatnya mudah bertobat dan merendahkan diri kepada Allah Ta’ala.
Umar bin Khattab pernah berkata: Seandainya ada suara dari langit mengatakan semua manusia masuk surga kecuali satu orang, aku khawatir akulah orang itu.
Kedua, mudah lupa terhadap kebaikan yang telah dilakukan. Ini mendorongnya untuk terus berbuat baik.
Ketiga, dalam urusan dunia melihat orang yang lebih rendah. Melihat orang yang lebih miskin atau lebih sulit hidupnya sehingga ia bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala.
Keempat dalam urusan agama melihat orang yang lebih tinggi. Ini memotivasinya untuk terus memperbaiki diri. Imam Ahmad bin Hanbal ditanya; Apakah engkau merasa telah mencapai derajat tinggi dalam ilmu?
Dia menjawab: Bagaimana aku merasa tinggi sementara aku melihat orang yang lebih alim dariku di setiap zaman.
Kerendahan hati itulah yang membuatnya menjadi imam besar. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto