RadarJombang.id – Ketua Yayasan Pesantren Tinggi Darul Ulum (Yapetidu), KH M Zaimuddin W Asad, mengajak dosen dan mahasiswa mengisi Ramadan dengan memperkaya diri melalui ilmu serta peningkatan nilai ibadah.
’’Ramadan itu istimewa. Hal pasif saja dicatat sebagai ibadah. Orang tidur sudah mendapat pahala. Apalagi ikut kajian Ramadan,’’ katanya saat mengisi kajian Ramadan yang digelar Pusat Studi Qur’an (PSQ) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Sabtu (21/2).
Ia mengingatkan, Ramadan tahun ini dijalani di tengah kehidupan yang serba cepat dan praktis.
’’Hari ini hari ketiga Ramadan. Kita hidup di era serba instan. Pesan makanan tinggal klik, butuh ilmu tinggal buka gawai. Bahkan ingin cepat bahagia pun terasa mudah,’’ tuturnya.
Fenomena tersebut membuat manusia cenderung mengabaikan makna ikhtiar. Menurutnya, segala sesuatu yang instan sangat diminati, meski sering mengikis proses perjuangan.
Ia mencontohkan kisah Siti Maryam dalam Surah Maryam ayat 25.
Saat dalam kondisi hamil tua dan kesakitan menjelang persalinan, Maryam tidak serta-merta mendapat makanan.
Ia tetap diminta berikhtiar dengan menggoyangkan batang kurma oleh Allah Ta’ala.
’’Dalam ayat itu ada perintah goyangkan ke arahmu batang kurma. Setelah itu barulah kurma matang berjatuhan. Artinya tugas manusia berusaha, soal hasil serahkan kepada Gusti Allah,’’ jelasnya.
Gus Zuem menilai, realitas saat ini menunjukkan, banyak orang ingin hasil baik tanpa perjuangan.
Informasi melimpah membuat fokus mudah hilang. Jaringan pertemanan luas, namun kedalaman relasi berkurang.
’’Dulu yang di-scroll tasbih, sekarang keranjang kuning. Orang scrolling tanpa henti. Akibatnya tidak sabar berproses, mudah membandingkan diri dengan orang lain, cepat mencari validasi, dan gampang lelah secara mental,’’ paparnya.
Ramadan harus menjadi ruang perubahan. ’’Ada tiga tingkatan perubahan yang perlu dilakukan,’’ ucapnya.
Pertama perubahan perilaku. Yakni lebih disiplin, santun, serta tertib dalam ibadah. Kedua perubahan pola pikir.
Dari orientasi instan menuju proses. Dari mencari validasi menuju makna kehidupan. Serta dari kompetisi menuju kontribusi.
Ketiga perubahan orientasi hidup. Yakni tidak sekadar mengejar sukses dunia, namun mengharap rida Allah Ta’ala. Serta bukan hanya memburu gelar, tetapi juga mencari keberkahan.
’’Ramadan adalah madrasah perubahan diri. Kita dilatih sabar, ikhtiar, dan menyerahkan hasil kepada Allah,’’ tegasnya. (ang/jif)
Editor : Achmad RW