Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Ramadan Melatih Empat Hal  

Rojiful Mamduh • Kamis, 19 Februari 2026 | 07:28 WIB

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

 

Saat ngaji usai salat Duha di Masjid Agung Jannatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (18/2), Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Jombang sekaligus Pengasuh PP Mambaussalam, Pedes, Kecamatan Perak, KH M Haris Munawir, menjelaskan hikmah puasa Ramadan. ’’Puasa Ramadan melatih empat hal,’’ tuturnya.

 

Pertama melatih kejujuran. Puasa ibadah yang sangat rahasia. Tidak ada manusia yang tahu apakah seseorang berpuasa atau tidak. Saat berwudu di siang hari dan berkumur, seseorang sangat mungkin menelan air tanpa diketahui siapa pun. Namun ia tidak melakukannya karena sadar Allah Maha Melihat.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi: Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.

 

Kejujuran inilah inti puasa. Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan, hakikat puasa bukan hanya menahan perut. Tetapi menjaga seluruh anggota badan dari maksiat. Jika seseorang jujur dalam puasanya, ia akan jujur pula dalam hidupnya.

 

Sahabat Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata; Takwa itu engkau beramal dalam ketaatan kepada Allah dengan cahaya dari Allah, dan engkau meninggalkan maksiat karena takut kepada Allah Ta’ala.

Puasa melatih kejujuran yang lahir dari rasa diawasi oleh Allah Ta’ala alias muraqabah.

 

Kedua melatih kesabaran. Menjelang Magrib, makanan sudah terhidang. Bau masakan menggoda, tenggorokan kering, tenaga melemah. Namun seorang yang berpuasa tetap menahan diri hingga azan berkumandang. Inilah latihan kesabaran.

 

Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.

Rasulullah bersabda: Puasa adalah setengah dari kesabaran.

Ali bin Abi Talib radiyallahu anhu mengatakan; Sabar itu seperti kepala bagi tubuh. Jika kepala hilang, tubuh pun hilang.

 

Ramadan mendidik jiwa agar tidak tergesa-gesa, tidak dikuasai hawa nafsu, dan mampu menunda kenikmatan demi ketaatan.

 

Ketiga melatih kasih sayang kepada sesama. Rasa lapar yang kita rasakan di siang Ramadan mengajarkan empati. Kita merasakan sedikit dari apa yang setiap hari dirasakan oleh orang-orang miskin. Dari sinilah tumbuh kasih sayang.

 

Rasulullah dikenal sebagai manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi saat Ramadan.

Sahabat Abdullah bin Abbas radiyallahu anhu meriwayatka, kedermawanan Nabi di bulan Ramadan bagaikan angin yang berembus kencang—memberi tanpa henti.

 

Seorang tabi’in, Hasan al-Basri rahimahullah, berkata: Barang siapa tidak tergerak hatinya saat melihat orang miskin, maka ia perlu memeriksa hatinya.

 

Ramadan menjadikan kita bukan hanya hamba yang rajin ibadah, tetapi juga hamba yang peduli sesama.

 

Keempat melatih kasih sayang kepada diri sendiri. ’’Proses pencernaan makanan memerlukan waktu delapan jam. Biasanya sebelum delapan jam kita sudah makan lagi, sehingga organ pencernaan bekerja tanpa henti,’’ ungkapnya.

 

Dengan puasa, tubuh diberi waktu istirahat. Rasulullah bersabda; Berpuasalah niscaya kalian akan sehat.

Puasa membantu membersihkan tubuh dari zat-zat berbahaya dan menyeimbangkan metabolisme. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#masjid agung #Jombang #polres jombang #Binrohtal