Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jombang, KH Agung Bahroni, menjelaskan kiat mendapatkan rezeki halal.
’’Faqih Abu Laits As-Samarqandi rahimahullah memberikan lima resep agar rezeki halal,’’ tuturnya.
Rezeki halal sangat pentingnya karena ini menjadi kunci keberkahan. Hanya rezeki halal yang menggerakkan tubuh bisa ibadah dan amal saleh. Serta membuat doa dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Resep agar rezeki halal pertama, tidak melalaikan kewajiban karena mencari nafkah. Janganlah menunda kewajiban-kewajiban Allah Ta’ala karena mencari nafkah, dan jangan menguranginya.
Allah Ta‘ala berfirman di QS An-Nur 37. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan salat.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat.
Ibnu Mas‘ud radiyallahu anhu berkata: Seseorang yang meninggalkan salat demi dunianya, maka Allah akan menghinakannya dengan dunia itu.
Kedua, tidak menyakiti makhluk Allah dalam mencari nafkah. Yakni tidak menipu, tidak zalim, tidak merugikan orang lain demi keuntungan.
Allah Ta’ala berfirman di QS Hud 85. Janganlah kalian mengurangi hak-hak manusia.
Rasulullah bersabda: Barang siapa menipu kami, maka ia bukan dari golongan kami.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Harta yang diperoleh dengan kezaliman, walaupun banyak, hakikatnya adalah kefakiran
Ketiga, meluruskan niat: Menjaga kehormatan, bukan menumpuk harta. Mencari nafkah diniatkan untuk menjaga diri dari meminta-minta dan menafkahi keluarga, bukan demi ambisi dunia.
Rasulullah bersabda: Barang siapa mencari dunia secara halal untuk menjaga kehormatan dari meminta-minta, maka ia berada di jalan Allah.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: Sedikit harta yang mencukupi lebih baik daripada banyak harta yang melalaikan.
Keempat, tidak memaksakan diri secara berlebihan dalam mencari nafkah. Islam tidak mengajarkan meninggalkan dunia, tapi juga tidak membenarkan mengorbankan agama, kesehatan, dan keluarga demi harta.
Rasulullah bersabda: Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata: Jangan kau kejar dunia dengan tamak, karena ia akan menjauh; kejarlah Allah, dunia akan datang dalam keadaan hina.
Kelima, meyakini rezeki dari Allah Ta’ala, usaha hanya sebab. Ini puncak tauhid dalam muamalah: Hati bergantung kepada Allah, tangan tetap bekerja.
Allah Ta’ala berfirman di QS Hud 6. Tidak ada satu makhluk pun di bumi kecuali Allah yang menjamin rezekinya.
Rasulullah bersabda: Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian diberi rezeki.
Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah kehilangan seluruh barang dagangannya di kapal. Namun beliau berkata: Alhamdulillah, yang memberi rezeki bukan kapal itu.
Tak lama kemudian, datang kabar bahwa kapal tersebut selamat. Hatinya tidak bergantung pada sebab, tetapi pada yang menyebabkan sebab yakni Allah Ta’ala. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto