SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (3/1), pengurus MWCNU Kecamatan Sumobito, H Ahmad Mauzul, menjelaskan peristiwa besar di bulan Syakban. ’’Salah satu peristiwa besar di Syakban yakni perpindahan kiblat,’’ tuturnya.
Kiblat awal ke Kakbah. Lalu dipindah ke Baitul Maqdis selama 17 bulan. Kemudian kembali ke Kakbah. Ini setelah Allah Ta’ala menurunkan Surat Albaqarah ayat 144.
Sesungguhnya Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.
Ayat ini turun sebagai jawaban atas kerinduan Rasulullah Muhammad sallalalhu alaihi wa sallam yang berharap agar kiblat umat Islam dipindahkan dari Baitul Maqdis menuju Masjidil Haram. Perpindahan kiblat ini ujian besar terhadap keimanan umat Islam.
Ketika perintah pemindahan kiblat turun, Rasulullah dan para sahabat langsung melaksanakannya. Bahkan sebagian sahabat sedang melaksanakan salat, lalu di tengah salat diberi tahu bahwa kiblat telah dipindah. Maka mereka langsung berputar arah ke Masjidil Haram.
Rasulullah bersabda: Antara timur dan barat adalah kiblat.
Hadis ini menjelaskan bahwa yang dimaksud syathral Masjidil Haram, merupakan arah Masjidil Haram. Bukan harus tepat menghadap bangunan Kakbah secara presisi. Bagi orang yang berada jauh dari Makkah, cukup menghadap arahnya. Seperti di Indonesia yang menghadap ke barat.
Imam Nawawi rahimahullah menegaskan dalam Syarah Sahih Muslim, kewajiban menghadap tepat ke Kakbah hanya bagi orang yang melihatnya langsung, sedangkan yang jauh cukup menghadap arahnya.
Setelah perpindahan kiblat, terjadi dua sikap berbeda di kalangan manusia.
Bagi para sahabat sejati, perintah ini justru menambah keyakinan. Mereka yakin bahwa kebenaran mutlak datang dari Allah, bukan dari kebiasaan lama. Allah Ta‘ala berfirman di QS Albaqarah 143. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang dahulu itu melainkan untuk mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berpaling.
Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu berkata: Kami beriman kepada Allah dalam keadaan susah maupun mudah, dalam keadaan sesuai atau tidak dengan keinginan kami.
Sebagian orang yang imannya rapuh, mereka diolok-olok oleh kaum Yahudi yang berkata, ’’Mengapa kalian tidak konsisten dengan kiblat kalian?’’
Akibat ejekan itu, sebagian orang yang sebelumnya mengaku Islam kembali kepada kekafiran (murtad).
Hasan Al-Bashri berkata: Hati yang tidak ikhlas akan goyah oleh ujian kecil.
Inilah bukti bahwa iman bukan sekadar pengakuan, tetapi keteguhan menerima perintah Allah meski diuji oleh manusia. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto