SABTU, 31 Januari 2026 semestinya menjadi penanda sejarah yang khidmat bagi Nahdlatul Ulama.
Tepat seabad masehi usia jam’iyah ini menapaki perjalanan panjang, dari kota kecil hingga gelanggang besar bernama Indonesia.
Namun pagi itu, di kawasan Senayan, suasana justru tampak muram. Subuh diguyur hujan deras, seolah langit ikut mengekspresikan kegelisahan. Meski menjelang pukul tujuh hujan mereda, hawa dingin masih terasa.
Dan rupanya tidak hanya di udara, tetapi juga di batin banyak hadirin.
Saya menghadiri undangan peringatan seabad NU di Gelora Bung Karno. Undangan baru saya terima H-2, setelah rapat pleno yang mencabut keputusan penunjukan Kiai Zulfa sebagai Pj Ketua Umum NU.
Penunjukan itu dulu dilakukan melalui rapat pleno 9 Desember 2025 di Hotel Sultan. Uniknya, kali ini saya menginap di hotel yang sama, didahului Silaturrahmi Nasional Pengasuh Pesantren. Sejarah memang sering berulang, tetapi tidak selalu membawa rasa yang sama.
Sejak awal, peringatan seabad NU sudah dibayangi kabar simpang siur tentang restu Rais ‘Aam Kiai Miftah.
Banyak yang menduga acara akan dibatalkan. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan, sebab dinamika internal NU belakangan memang belum sepenuhnya reda.
Pagi itu, saya sempat duduk semeja di ruang transit bersama Menko PMK, Menteri Agama, Ketua Umum Yahya Staquf, dan Katib ‘Aam, menunggu presiden yang dijadwalkan hadir.
Setengah jam sebelum acara, saya bersama undangan dipersilakan menuju venue. Kursi tertata rapi sesuai nama. Protokol ketat sebagaimana acara kenegaraan, dan paspampres bersiaga di berbagai sudut.
Namun waktu berjalan tanpa kepastian. Pukul sembilan mestinya acara dimulai, tetapi belum. Kursi-kursi menteri di depan saya tampak baru terisi sebagian kecil. Saya menduga, para menteri masih wait and see. Menuggu sinyal kehadiran presiden.
Dugaan saya mulai menguat ketika MC mempersilakan hadirin berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya setelah Ahmad Muzani ( ketua MPR ) masuk suangan. Itu pertanda jelas: Presiden batal hadir. Kehadiran negara ’’diwakili’’ oleh ketua MPR RI. Beliaulah yang memberikan pengarahan. Secara formal oke, tetapi secara simbolik menyisakan rasa tak dianggap.
Dingin cuaca di luar venue seolah menular ke dalam ruangan. Saya merasakan ada luka yang belum sembuh betul. Gesekan antara Rais ‘Aam dan Ketua Umum masih menyisakan jarak. Informasi bahwa Rais ‘Aam sedang kurang sehat, saya bisa memaklumi.
Namun kabar bahwa Sekjen Saifullah Yusuf tidak hadir karena kesibukan lain justru menimbulkan tanda tanya besar. Momentum seabad NU, sebuah peristiwa yang barangkali hanya sekali dalam hidup seseorang, ternyata bisa dikesampingkannya. Di titik inilah, kata ishlah terasa masih sebatas wacana.
Dalam sebuah organisasi, relasi Ketua dan Sekretaris ibarat suami istri. Boleh berbeda pandangan, boleh berselisih pendapat, tetapi ketika ada hajatan keluarga besar, keduanya semestinya tampil bersama.
Ketidakhadiran salah satu pada momentum sepenting ini menimbulkan kesan bahwa mereka masih ’’pisah ranjang”. Aura itu kuat sekali: Masih satu rumah, tetapi belum satu hati.
NU adalah rumah besar dengan jutaan warga, ribuan pesantren, dan sejarah panjang menjaga Indonesia.
Di usia seabad, yang dibutuhkan bukan sekadar panggung megah, protokol rapi, atau jumlah massa yang besar, melainkan kehangatan kebersamaan. Seabad bukan sekadar angka, melainkan kaca untuk bercermin. Jika para elite NU masih menyimpan jarak satu sama lain, maka warga di bawah hanya bisa membaca sinyal: Ada yang belum beres di rumah besar ini.
Peribahasa lama mengingatkan, al-ittihad rahmah, wal-iftiraq ‘azab ( persatuan adalah rahmat, perpecahan membawa azab). Peringatan seabad NU mestinya menjadi panggung penguatan nilai rahmat itu.
Karena akan sangat mustahil bagi NU untuk bisa berperan aktif dalam memperjuangkan Islam yang ’’rahmatan lil’alamin”, bila para penerima amanatnya tak lagi ruhama-u bainahum (saling mengasihi di antara mereka). Maka, sebagai nahdliyin pinggir kali, saya hanya bisa berharap: Semoga setelah perayaan ini, ishlah betul-betul terwujud. Seluruh jajaran NU bersatu kembali. Mesra dengan aura kasih sayang yang tulus. Bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di ruang batin para pemimpinnya. Saya yakin, itulah seluruh harapan para nahdliyin. Wallahu-a’lam bissawab.
Editor : Anggi Fridianto