Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Tiga Tanda Beruntung

Rojiful Mamduh • Jumat, 23 Januari 2026 | 05:37 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (21/1), Sekretaris Lembaga Dakwah NU Kecamatan Jombang, Ustad Sandi Ferdy Yulianto, menjelaskan tanda beruntung. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Wahai Ali, orang yang beruntung memiliki tiga tanda. Rezekinya halal, bergaul bersama para ulama, dan melaksanakan salat lima waktu berjamaah,’’ tuturnya.

Indikator keberuntungan seorang muslim bukan pada ukuran materi, status sosial, atau popularitas. Melainkan pada kualitas relasi manusia dengan Allah Ta’ala, ilmu, dan kehidupan sosial. Tiga tanda tersebut membentuk satu kesatuan etika spiritual dan sosial dalam Islam.

Pertama, makanan yang halal. Makanan halal tidak hanya bermakna zatnya halal, tetapi juga cara memperolehnya halal. Dalam Islam, konsumsi halal menjadi fondasi utama kesucian jiwa dan keberkahan amal. Makanan yang diperoleh dari jalan haram akan mengeraskan hati. Menghalangi terkabulnya doa. Serta merusak integritas moral seseorang.

Secara spiritual, halal adalah pintu awal kesalehan. Ibadah yang dilakukan oleh tubuh yang tumbuh dari yang halal akan lebih mudah diterima Allah Ta’ala. Secara sosial, prinsip halal menuntut kejujuran, keadilan ekonomi, dan tanggung jawab dalam mencari nafkah.

Sebagaimana disebutkan di QS Almukminun 51. Hai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat di atas menyiratkan bahwa makanan halal merupakan pendorong amal saleh.

Kedua, bermajelis dengan ulama.  Agama harus dijalani dengan ilmu. Ulama bukan sekadar figur keagamaan, melainkan penjaga nilai, penuntun akhlak, dan penyeimbang nalar keislaman.

Majelis ilmu membentuk cara berpikir yang bijak. Menghindarkan umat dari sikap ekstrem. Serta menumbuhkan etos keberagamaan yang moderat. Kedekatan dengan ulama melahirkan sikap rendah hati, keterbukaan dialog, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Dekat dengan ulama membuat mudah ingat Allah Ta’ala. Nabi bersabda; Kekasih Allah adalah orang yang ketika dipandang membuat ingat Allah.

Ketiga, salat lima waktu berjamaah. Nabi bersabda; Orang yang istiqamah salat berjamaah akan diberi lima hal. Bebas dari kesempitan rezeki. Bebas dari siksa kubur. Menerima catatan amal tangan kanan. Melewati sirot secepat kilat. Serta masuk surga tanpa hisab.

Ketiga tanda ini membentuk segitiga kesalehan Islam. Halal, kesucian individu dan ekonomi. Ilmu, kejernihan akal dan moral. Jamaah, kekuatan sosial dan spiritual.

 

’’Hadis ini mengajarkan bahwa orang yang benar-benar beruntung adalah mereka yang saleh secara personal, cerdas secara intelektual, dan aktif secara sosial,’’ tegasnya. Inilah model muslim ideal yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga berkontribusi nyata bagi kehidupan bersama. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #Kota Santri #polres jombang #Binrohtal